Muhaimin: Gus Dur Tak Pisahkan Agama dan Politik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar turut hadir pada konggres GP Ansor ke-15 di Pondok Pesantren Pandananaran, Sleman, Yogyakarta, 26 November 2015. Ribuan anggota GP Ansor seluruh Indonesia hadir meramaikan konggres. TEMPO/Pius Erlangga

    Ketua umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar turut hadir pada konggres GP Ansor ke-15 di Pondok Pesantren Pandananaran, Sleman, Yogyakarta, 26 November 2015. Ribuan anggota GP Ansor seluruh Indonesia hadir meramaikan konggres. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar belajar banyak hal dari sosok Gus Dur. Dalam sambutannya di acara Sekolah Kepemimpinan Gus Dur, Muhaimin mengatakan ada empat hal yang ia pelajari dari sosok bernama lengkap Abdurrahman Wahid itu.

    "Salah satu keberhasilan kepemimpinan Gus Dur ialah tauhid," kata Muhaimin di kantor DPP PKB, Jakarta, Ahad, 26 Maret 2017. Menurut dia, agama bagi Gus Dur bukan sekadar formalitas tapi telah menjadi semangat atau spirit. Termasuk di dalamnya, ucap Muhaimin, agama tidak dipisahkan dari politik.

    Baca: Sebut Gus Dur Presiden Miskin, Menteri Luhut: Duitnya Dibagi-bagi

    Tiga pelajaran lainnya yang didapat Muhaimin dari Gus Dur ialah kemanusiaan, keadilan, serta persatuan dan kebersamaan. Hal-hal itu yang membuat banyak orang masih merindukan sosok Gus Dur. Bahkan hingga saat ini, Muhaimin melanjutkan, orang yang berziarah ke makam Gus Dur tidak pernah berhenti.

    Oleh sebab itu, lewat Sekolah Kepemimpinan Gus Dur, Muhaimin berharap para kader PKB bisa meneruskan nilai-nilai yang sudah diwarisi cucu pendiri Nahdlatul Ulama, Hasyim Asyari, itu. "Harapannya kader di DPC dan DPD bisa jadi ujung tombak perbaikan," ujar Muhaimin.

    Baca: Cak Imin Kenang Gus Dur sebagai Sosok yang Tak Pernah Hidup Tenang

    Pada kesempatan yang sama, cendekiawan Ignas Kleden yang menjadi salah satu pembicara menilai Gus Dur dikenal amat pintar. Ia mengatakan Gus Dur bisa menjelaskan persoalan menyangkut public society tanpa membawa-bawa istilah agama. "Itu membuat kelompok lain mengerti," kata dia.

    Situasi sebaliknya justru terjadi pada hari ini. Ignas mengatakan selama seseorang menggunakan bahasa atau istilah sektarian maka sulit mengharapkan kehadiran civil society. "Ini yang mesti diteruskan warisannya," ucapnya.

    ADITYA BUDIMAN

    Baca: Cak Imin: Tulisan Gus Dur di Tempo Bikin Ayah Saya Terkenal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.