Gempa Guncang Bima, Satu Orang Tewas karena Panik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • 2space.net

    2space.net

    TEMPO.CO, Bima - Gempa 6,2 skala Richter (SR) yang terjadi di Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 30 September 2016, terasa hingga Kota Bima. Seorang warga Bima meninggal akibat panik ketika terjadi guncangan.

    Siti Hajar Binti Ridwan, 25 tahun, jatuh setelah melompati pagar karena panik saat ada guncangan. Warga RT 08, Kelurahan Manggemaci, Kecamatan Mpunda, itu meninggal karena tindakannya tersebut.

    "Dia panik. Saat gempa terjadi, dia naik pagar dan langsung lompat pagar," ucap Tei, tetangga korban, Jumat, 30 Desember 2016.

    Diketahui, gempa tektonik itu mengguncang Bali, Nusa Tengara Barat, dan NTT. Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa tersebut terjadi pukul 06.30 Wita.

    Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi terjadi pada pukul 06.30.19 Wita. Gempa berkekuatan 6,2 SR dengan episenter terletak di koordinat 9,37 Lintas Selatan dan 118,63 Bujur Timur pada kedalaman 91 kilometer.

    Dampak gempa berupa guncangan lemah-sedang dirasakan di Kuta, Gianyar, Denpasar, Mataram, Bima, Waingapu, Waikabubak, Labuan Bajo, dan Ruteng dalam skala intensitas II SIG BMKG atau (II-V MMI).

    Di daerah-daerah tersebut, guncangan gempa dirasakan hampir semua orang. Ditinjau dari kedalamannya, gempa ini merupakan jenis gempa bumi menengah akibat aktivitas subduksi hasil interaksi Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia.

    AKHYAR M. NUR



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.