Penangkapan Aktivis, Kapolri Didesak Copot Kapolda Metro

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penangkapan aktivis Sri Bintang. Kredit: Istimewa

    Suasana penangkapan aktivis Sri Bintang. Kredit: Istimewa

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia Police Watch mendesak Kapolri Jenderal Tito Karnavian segera mencopot Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal M. Iriawan. Ini terkait penangkapan sejumlah aktivis yang diduga akan melakukan makar.

    Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S. Pane menilai penangkapan ini adalah wujud arogansi dan kesewenang-wenangan Kapolda Metro Jaya. Hal ini juga dianggap sangat bertolak belakang dengan sikap Kapolri yang intens melakukan pendekatan dan dialog dengan tokoh tokoh masyarakat menjelang aksi damai 212.

    "Kapolda Metro Jaya tidak punya dasar hukum yang jelas dalam menangkap kedelapan tokoh itu. Apalagi jika Polda Metro Jaya menangkap mereka dengan alasan telah melakukan upaya makar, yang tolak ukurnya tidak jelas secara hukum," kata Neta melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 2 Desember 2016.

    Neta menambahkan, seharusnya polisi menangkap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang menjadi sumber masalah dan bukan menangkap tokoh-tokoh tersebut. "Secara nyata Ahok sudah melakukan penistaan agama hingga dinyatakan sebagai tersangka. Akibat ulah Ahok sudah terjadi kegaduhan dan kekacauan yang membuat Polri kerepotan," katanya.

    Neta juga meminta polisi segera melepaskan para tokoh yang ditangkap. Agar situasi politik ibukota tidak semakin panas.

    Menurut informasi yang beredar, ada sekitar 8 tokoh yang ditangkap pagi tadi. Mereka  ditangkap dengan tuduhan melanggar pasal 107 juncto pasal 110 KUHP juncto pasal 87 KUHP dan pasal 207 KUHP.

    INGE KLARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.