Ketua Muhammadiyah Simpan Pidato Paus Fransiskus di Ponsel

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim Evaluasi Penanganan Kasus Terorisme yang diwakili oleh Franz Magnis Suseno, Busyro Muqoddas, Hafid Abbas, Dahnil Anzar, Magdalena Sitorus, dan Siane Indriani dalam konferensi pers di PP Muhammadiyah, 15 Juli 2016. TEMPO/Fauzy Dzulfiqar Anas

    Tim Evaluasi Penanganan Kasus Terorisme yang diwakili oleh Franz Magnis Suseno, Busyro Muqoddas, Hafid Abbas, Dahnil Anzar, Magdalena Sitorus, dan Siane Indriani dalam konferensi pers di PP Muhammadiyah, 15 Juli 2016. TEMPO/Fauzy Dzulfiqar Anas

    TEMPO.COYogyakarta - Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Hukum, HAM, dan Kebijakan Publik Busyro Muqoddas mengapresiasi sikap pemimpin Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus, ihwal terorisme yang belakangan marak terjadi di Eropa.

    Busyro mengatakan ada dua pernyataan Paus yang menurut dia layak diperhatikan ketika terorisme dikaitkan dengan ajaran agama, khususnya Islam. Dalam sebuah wawancara, kata Busyro, Paus mengatakan terorisme sama sekali tak ada hubungannya dengan ajaran-ajaran agama, termasuk Islam.

    Paus, ujar Busyro, melihat terorisme disebabkan negara-negara adidaya memberhalakan sumber daya alam sebagai hartanya dengan cara-cara yang melanggar keadilan. Paus juga melihat terorisme bersumber dari hilangnya rasa optimisme pemuda terhadap sistem perekonomian yang berkeadilan. "Pesan moral Paus ini baik sekali," katanya dalam Rapat Kerja Nasional Majelis Hukum dan HAM PP Muhammadiyah, Ahad, 28 Agustus 2016. 

    Busyro mengingat ketika Paus, pada awal kepemimpinannya, menyatakan misi gereja bukan untuk menolong kepentingan yang terbalut politik praktis, melainkan menebarkan kebenaran, kebajikan, dan kedamaian. "(Kliping) pidato Paus itu saya simpan dan saya simpan dalam handphone sampai sekarang," ujarnya. 

    Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini pun mengaku sangat tertarik terhadap pernyataan Paus tentang Gereja Katolik. Menurut dia, Gereja Katolik memiliki dimensi-dimensi pesan moral yang baik, seperti "Rahmatan Lil Alamin" dalam Islam. "Jadi klop dimensi pesan moralnya itu," ucapnya.

    Muhammadiyah, kata Busyro, tak akan berhenti mengingatkan pemerintah, khususnya kepolisian, dalam menangani terorisme. Radikalisme, ujar dia, bukan menyangkut kelompok kecil umat beragama. Radikalisme muncul akibat sistem keadilan yang diganggu kebijakan-kebijakan internasional dan nasional.

    Meskipun mengawasi Polri, Busyro mengakui Kapolri Jenderal Tito Karnavian memiliki pandangan maju soal terorisme sehingga membuat optimistis kalangan Muhammadiyah. Begitu pula Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komisaris Jenderal Suhardi Alius, yang dianggap mempunyai pandangan terbuka ihwal penanganan terorisme.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.