Dihantui Kebakaran Hutan, Petani Sawit Beralih Tanam Kayu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga berusaha memadamkan api dengan alat seadanya ketika terjadi kebakaran lahan di Desa Kualu, Kampar, Riau, 14 Agustus 2016. Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pekanbaru, terdapat 66 'hot spot' yang tersebar di beberapa Kabupaten di Provinsi Riau. ANTARA FOTO

    Warga berusaha memadamkan api dengan alat seadanya ketika terjadi kebakaran lahan di Desa Kualu, Kampar, Riau, 14 Agustus 2016. Berdasarkan data BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Pekanbaru, terdapat 66 'hot spot' yang tersebar di beberapa Kabupaten di Provinsi Riau. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Warga Kampung Jawa, Kelurahan Sungai Pakning, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau, mulai menanam tumbuhan kayu hutan untuk menjaga ekosistem rawa gambutnya. Mereka mulai beralih dari tanaman sawit dan karet karena selama ini dihantui kebakaran lahan dan hutan.

    Samsul, warga Kampung Jawa, mengaku memulai lebih awal penanaman pelbagai jenis kayu hutan di lahan miliknya seluas 3 hektare. Dia berharap langkah tersebut dapat dicontoh masyarakat sekitarnya untuk restorasi lahan gambut di daerah itu.

    "Target kami, seluas 50 hektare lahan masyarakat akan kami hijaukan kembali dengan tanaman kayu hutan," kata Samsul saat ditemui Tempo, Rabu, 24 Agustus 2016. Kampung Jawa merupakan satu dari banyak daerah di Indonesia yang mendapatkan pendampingan dari pemerintah Norwegia melalui United Nations Development Programs (UNDP).

    Menurut Samsul, tanaman kayu hutan dinilai lebih efektif dalam pembangunan ekonomi masyarakat sekitar gambut ketimbang kelapa sawit dan karet. Sebelumnya, masyarakat lebih dominan menanam sawit dan karet. Namun, beberapa tahun terakhir, masyarakat selalu mengalami kerugian akibat kebakaran lahan.

    Kecamatan Bukit Batu merupakan satu daerah yang rawan terbakar karena didominasi lahan gambut. Hampir setiap tahun, kawasan ini selalu mengalami kebakaran lahan yang berdampak pada terbakarnya kebun warga. Menurut Samsul, dikuasainya kawasan itu oleh perusahaan hutan tanam industri dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di bagian hulu sangat berdampak buruk bagi masyarakat yang di hilir.

    Perusahaan diduga menahan laju air di kanal konsesinya, sehingga masyarakat setempat tidak kebagian air, yang menyebabkan lahan masyarakat mengering. Namun sebaliknya, jika musim hujan, perusahaan sengaja melepaskan air di kanal konsesinya, yang mengakibatkan lahan masyarakat mengalami kebanjiran. "Kami capek menanam sawit, selalu saja terbakar setiap tahun," ucapnya.
     
    National Project Manager UNDP Roy Rahendra menuturkan sekat kanal hanyalah proyek jangka pendek untuk membuat lahan kembali basah, sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. "Tata kelola sumber daya alam lebih baik dan mampu membangun ekonomi masyarakat sekitar," ujarnya.

    RIYAN NOFITRA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.