Paket Rp 36 Miliar Bos Indopos buat Pencitraan Jero Wacik  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa mantan Menbudpar, Jero Wacik, di Pengadilan Tipikor Jakarta. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    Terdakwa mantan Menbudpar, Jero Wacik, di Pengadilan Tipikor Jakarta. TEMPO/Ridian Eka Saputra

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemimpin Redaksi dan Direktur PT Indopos Intermedia Press, Muhammad Noer Sadono alias Don Kardono, mengaku pernah menawarkan paket pencitraan media massa untuk eks Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Jero Wacik sebesar Rp 36 miliar. "Saya tawarkan Rp 36 miliar untuk program pemberitaan," katanya, bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Senin, 23 November 2015.

    Don Kardono bersaksi untuk Jero Wacik, yang duduk di kursi terdakwa atas kasus dugaan penyelewengan penggunaan Dana Operasional Menteri Energi. Menurut Don, awalnya paket Rp 36 miliar itu bukan hanya untuk Indopos dan Harian Indopos, tapi juga buat Rakyat Merdeka dan Jawa Pos. Tapi, karena nilai kontrak yang disepakati tidak mencapai Rp 36 miliar, paket tersebut hanya untuk satu media.

    BERITA MENARIK
    Rombongan HMI 21 Bus Mampir di Restoran, Makan, Lalu Kabur
    Keributan Terjadi di Rumah Duka Ibunda Riza Chalid  

    "Kontrak hanya Rp 3 miliar, maka dilangsungkan di Indopos saja," kata Don. Kerja sama Kementerian Energi dengan Indopos senilai Rp 3 miliar itu berlangsung kurang dari setahun. Kerja sama putus di tengah jalan dan uang yang dibayarkan Kementerian hanya senilai Rp 2 miliar. "Baru jalan sekitar 3 bulan, putus begitu saja."

    Adalah Sekretaris Jenderal Kementerian Energi Waryono Karno yang meminta Don membuat pencitraan positif untuk Jero Wacik. Don menyanggupi dengan menawarkan konsep Smart Reporting. Konsep itu tidak dicetak dalam bentuk iklan, melainkan berwujud berita. "Iklan dinilai tidak efektif untuk pembaca," ujarnya.

    Jero didakwa menyalahgunakan wewenang dan menyelewengkan dana operasional menteri ketika menjadi Menteri Energi serta Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. Dia diduga melakukan korupsi dengan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi. Jero pernah membantah soal dugaan ini. "Kalau ada tuduhan pemerasan, saya terus terang tidak pernah merasa memeras siapa pun," ujar Jero di KPK, Oktober 2014.

    FRISKI RIANA | M. RIZKI

    BACA JUGA

    Setelah Ketemu Prabowo, Setyo Novanto di Atas Angin?
    Mengharukan: Masjid Dirusak, Bocah Ini Bantu Pakai Celengan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.