Rini Soemarno: Reshuffle Tergantung Pak Presiden  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 6 Oktober 2015. Dalam rapat ini Komisi VI bersama Kementerian BUMN telah menyepakati Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan BUMN sebanyak Rp 34,318 Triliun. Jumlah tersebut meningkat dari usulan Pemerintah sebelum kesepakatan sebesar Rp 3 Triliun. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 6 Oktober 2015. Dalam rapat ini Komisi VI bersama Kementerian BUMN telah menyepakati Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada perusahaan BUMN sebanyak Rp 34,318 Triliun. Jumlah tersebut meningkat dari usulan Pemerintah sebelum kesepakatan sebesar Rp 3 Triliun. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno mengatakan menyerahkan sepenuhnya kepada Presiden Jokowi Widodo soal kemungkinan reshuffle kabinet karena, menurut dia, presidenlah yang paling berkuasa soal ini.

    "Semua tergantung Pak Presiden. Saya tetap bekerja sebaik mungkin," katanya setelah membuka "Pameran Foto: BUMN untuk Negeri" di Jakarta, Selasa, 10 November 2015.

    Menurut Rini, saat ini tugas yang dijalankannya pun memang tugas yang diberikan Presiden.

    "Jadi, semua tergantung Presiden. Keputusannya ada di Presiden," ujarnya.

    Dalam dua pekan terakhir, isu perombakan kabinet semakin kencang, terutama terhadap sejumlah menteri ekonomi, dan nama Rini Soemarno santer disebut masuk daftar nama yang akan digeser.

    Rumor-rumor yang beredar menyebutkan Menteri BUMN akan dijabat Rudiantara, yang saat ini menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika.

    "Ya... saya dengar itu. Saya juga baca. Saya tidak menanggapi apa-apa, saya tetap bekerja," ucapnya.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.