Mengapa PAN Malu-malu Bicara Perombakan Kabinet?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wapres Jusuf Kalla memimpin Sidang Kabinet Paripurna bersama Menteri Kabinet Kerja di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA/Yudhi Mahatma

    Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wapres Jusuf Kalla memimpin Sidang Kabinet Paripurna bersama Menteri Kabinet Kerja di Kantor Kepresidenan, Jakarta, 2 November 2015. ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Partai Amanat Nasional Azis Subekti menanggapi sikap Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno yang mengingatkan agar kader partai berlambang matahari putih itu menahan diri terkait dengan perombakan kabinet. Kepada anggotanya, Eddy meminta tidak terbuka kepada media mengenai calon kuat kader PAN yang digadang-gadang akan mengisi kabinet jika Presiden Joko Widodo kembali melakukan perombakan.

    "Soal etika. Jika saya menyebutkan nama-namanya, itu justru tidak menguntungkan bagi mereka yang disebutkan namanya. Kasihan. Bisa jadi, kalau nama itu disebutkan, malah membuat dia terganggu. Nanti ditelepon wartawan. Udah diteleponin, enggak jadi (menteri) lagi," kata Azis saat dihubungi pada Rabu, 4 November 2015.

    Azis mengaku benar bahwa PAN telah menyiapkan lima kadernya untuk menjadi rujukan Presiden Jokowi dalam merombak kabinet. Namun ia enggan menyebutkan lima nama tersebut, karena kewenangan membeberkan nama-nama itu ada di tangan Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan. 

    Sebelumnya, media telah mendapat bocoran dari kalangan internal PAN yang membenarkan adanya lima kader PAN yang dicalonkan menjadi menteri. Mereka adalah Didik Rachbini, Asman Abnur, Taufik Kurniawan, Hanafi Rais, dan Eddy Soeparno. 

    Menanggapi lima nama tersebut, Azis menuturkan nama-nama yang beredar itu tidak semuanya benar. "Enggak, namanya bukan yang seperti ditulis di media. Itu tidak sepenuhnya benar. Makanya kita tunggu saja daripada salah sebut," kata Azis. 

    Terlebih, menurut Azis, PAN baru saja bergabung dengan koalisi pemerintah, dan perombakan kabinet adalah sepenuhnya hak prerogatif Presiden Jokowi yang tidak bisa dicampuri pihak mana pun. "Presiden meminta kepada Ketua Umum PAN. Sampai sekarang, belum tahu berapa porsi yang akan diberikan di kabinet. Sekarang juga masih mengira-ngira semua," ucap Azis.

    DESTRIANITA K.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.