Rawan Pangan, Warga Sumba Timur Konsumsi Ubi Beracun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana sungai yang mengering saat musim kemarau di kawasan Kupang, 5 September 2015. Bencana kekeringan kini meluas mencapai 315 dari total 3.248 desa di NTT pada akhir Agustus lalu. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Suasana sungai yang mengering saat musim kemarau di kawasan Kupang, 5 September 2015. Bencana kekeringan kini meluas mencapai 315 dari total 3.248 desa di NTT pada akhir Agustus lalu. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Kupang - Warga belasan desa di empat kecamatan di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai mengkonsumsi ubi beracun atau biasa disebut ubi iwi oleh warga sekitar karena rawan pangan yang mulai melanda daerah itu.

    "Ada belasan desa di empat kecamatan yang melaporkan daerah dilanda rawan pangan akibat kekeringan berkepanjangan," kata Penjabat Bupati Sumba Timur John Hawula kepada wartawan, Kamis, 22 Oktober 2015.

    Menurut John, rawan pangan yang melanda Sumba Timur diakibatkan kemarau panjang, sehingga penggarapan lahan pertanian tidak optimal.

    John mengaku pihaknya sedang melakukan identifikasi dan pemetaan lokasi rawan pangan. "Kami belum tahu lokasi pastinya di mana, namun kami masih mengidentifikasinya," katanya.

    Pemerintah, menurut John, belum memberikan bantuan karena masih mengidentifikasi lokasi-lokasi rawan pangan. "Setelah lakukan indentifikasi, barulah kami tangani dengan memberikan bantuan emergency," ucapnya.

    Dia mengatakan warga Sumba Timur masih bisa mengkonsumsi pangan lokal, seperti ubi iwi atau ubi hutan beracun. "Jadi warga konsumsi ubi iwi bukan karena rawan pangan, tapi sudah biasa," ucapnya.

    Ubi Iwi, kata dia, harus diambil untuk dikonsumsi. Sebab, jika tidak, ubi itu akan membusuk dan tidak tumbuh lagi. "Setelah diambil, ubi akan disimpan dua hari, baru diolah untuk bisa dikonsumsi," katanya.

    YOHANES SEO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.