BNPB: Pembakaran Hutan Masih Terjadi, Titik Api Makin Banyak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Daerah Bangko Pusako, Rokan Hilir, Riau, yang diselimuti asap akibat pembakaran hutan (24/6). REUTERS/Beawiharta

    Daerah Bangko Pusako, Rokan Hilir, Riau, yang diselimuti asap akibat pembakaran hutan (24/6). REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO , Jakarta - Juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengakui masih adanya individu atau perusahaan yang tetap membakar hutan. "Memang, walau sedang kami padamkan, pembakaran hutan terus terjadi di beberapa daerah," katanya saat dihubungi, Kamis, 15 Oktober 2015.

    Hal ini terlihat justru semakin banyaknya titik api yang terpantau dari satelit Terra dan Aqua. Sutopo mengatakan satelit itu melihat kondisi Indonesia dua kali dalam sehari, pada pukul 03.00 dinihari dan pukul 16.00.

    Kemarin, pada 14 Oktober 2015, pukul 09.00, Sutopo merilis data titik api di Sumatera ada 315 titik dengan rincian Bengkulu 13 titik, Jambi 29 titik, Bangka Belitung 6 titik, Kepulauan Riau 3 titik, Lampung 31 titik, dan Riau 2 titik. Ada pula Sumatera Barat 1 titik dan Sumatera Selatan 230 titik. Hari ini, Kamis, 15 Oktober, titik api di Sumatera semakin berkurang dengan total 254 titik. Rinciannya adalah Jambi 28 titik, Lampung 1 titik, Riau 4 titik, dan Sumatera Selatan 221 titik.

    Berbeda dengan jumlah titik api di Pulau Sumatera, jumlah titik api di Pulau Kalimantan jauh lebih banyak. Kamis, 14 Oktober, Sutopo merilis titik api di Pulau Kalimantan hanya 157 titik. Rinciannya adalah Kalimantan Barat 3 titik, Kalimantan Selatan 128 titik, Kalimantan Tengah 113 titik, dan Kalimantan Timur 109 titik.

    Jumlah titik api itu melonjak menjadi 2.714 titik, yang terpantau pada pukul 09.00, Kamis, 15 Oktober. Rinciannya, Kalimantan Barat 34 titik, Kalimantan Selatan 356 titik, Kalimantan Tengah 1.855 titik, Kalimantan Timur 468 titik, serta Kalimantan Utara 1 titik.

    Sutopo membenarkan data itu. Ia mengatakan jumlah titik api yang kecil kemarin  diakibatkan beberapa faktor. Pertama, asap dan awan yang tebal sempat menghalangi sensor satelit kemarin. Faktor kedua adalah semakin banyaknya orang dan perusahaan yang melakukan pembakaran di beberapa wilayah sehingga menimbulkan titik api baru. "Ketiga, bulan September dan Oktober memang tingkat kemarau paling tinggi, sehingga titik api pun biasanya bertambah pada bulan ini," katanya.

    Menurut Sutopo, beberapa titik api baru ditemukan di beberapa daerah di kawasan Kalimantan, seperti di beberapa taman nasional. "Kami juga melihat ada indikasi illegal logging di beberapa daerah di Kalimantan," katanya.

    MITRA TARIGAN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.