Keluarga Pramugari Trigana Air Belum Terima Hasil Tim DVI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kerabat Pramugari Trigana Air, Dita Amelia memegang bingkai fotonya usai ikuti prosesi pemakaman Dita di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, 22 Agustus 2015. Pesawat Trigana Air Rute Jayapura-Oksibil Papua ditemukan jatuh di pegunungan Bintang. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Kerabat Pramugari Trigana Air, Dita Amelia memegang bingkai fotonya usai ikuti prosesi pemakaman Dita di TPU Karet Bivak, Jakarta Pusat, 22 Agustus 2015. Pesawat Trigana Air Rute Jayapura-Oksibil Papua ditemukan jatuh di pegunungan Bintang. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Bogor - Keluarga besar Ika Nugraeni Sukma Putri, 32 tahun, pramugari Trigana Air yang tewas dalam kecelakaan pesawat Trigana Air di Kamp 3 Distrik Okbape, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, pekan lalu, masih menunggu hasil proses identifikasi jenazah yang dilakukan oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).

    "Hingga hari ini, kami keluarga belum menerima kabar hasil identifikasi jasad Ika," kata Astra Wahyu Dewanto, kakak kandung korban saat ditemui di kediamannya, Perumahan Bukit Asri Ciomas Indah, Jalan Cendana Blok B 2 nomor 1E, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Minggu siang, 23 Agustus 2015.

    Dewanto mengatakan untuk mengetahui semua perkembangan dalam proses identifikasi jenazah adiknya oleh tim DVI, sudah ada perwakilan dari keluarga yang terbang untuk berangkat ke Papua. "Suami dari Ika dan adik saya sudah berangkat ke Papua, agar dapat memantau perkembangan dan informasi dalam proses identifikasi," kata dia.

    Menurut Astra, adik perempuannya itu selain anak bungsu dari empat saudara dia juga merupakan anak perempuan satu-satunya. Sehingga keluarga Ika sangat kehilangan setelah mendapat kabar jika pesawat tempat Ika bekerja jatuh setelah menabrak gunung di Papua.

    Ika sudah dari tahun 2001 bekerja menjadi pramugari dan sebelum bergabung dengan Trigana Air, Ika menjadi pramugari di Batavia Air dan Sriwijaya Air. "Ika meninggalkan seorang suami dan dua orang anak yang masih kecil," katanya.

    M. SIDIK PERMANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.