Kisah Sebastian Salang, Batal Jadi Bupati Akibat Mahar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Sebastian Salang, menunjukkan kemiripan desain gedung baru DPR dengan gedung parlemen di Chile. TEMPO/Imam Sukamto

    Aktivis Koalisi Masyarakat Sipil Sebastian Salang, menunjukkan kemiripan desain gedung baru DPR dengan gedung parlemen di Chile. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Sebastian Salang batal mencalonkan diri sebagai calon Bupati Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Alasannya, dia enggan maju bila harus menyerahkan "mahar" politik ke partai pendukungnya.

    "Saya lebih baik mundur karena saya tidak memburu kekuasaan. Saya hanya ingin mengabdi dan mengubah daerah," ujarnya saat dihubungi, Rabu, 5 Agustus 2015. (Lihat Video Mantan Koruptor Percaya Diri Ikut Pilkada)

    Sebastian sempat ditawari sejumlah partai untuk mendukungnya sebagai calon bupati. Di antaranya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Kebangkitan Bangsa.

    Bahkan, ia sempat mengikuti uji kelayakan dan kepantasan di salah satu partai. Saat serangkaian proses hampir rampung dijalankan, partai tersebut justru meminta mahar politik lebih dari Rp 1 miliar."Ngomongnya bukan ke saya, tapi tim saya. Kami tidak akan bernegosiasi soal mahar," ujarnya.

    Ia pun menyayangkan sikap partai yang ia rahasiakan tersebut. Menurut dia, seharusnya partai tidak memanfaatkannya dalam bentuk dana, melainkan ide dan citra dia selama ini. Sepak terjangnya yang kerap mengkritik pemerintah, kata Sebastian, seharusnya menjadi pertimbangan partai untuk tidak meminta mahar politik.

    "Harusnya menjadi keuntungan partai kalau mendukung saya. Partai kalian bisa saya sebut setiap saat dan ini menjadi kampanye gratis," ujarnya. "Jangan mengharapkan keuntungan berupa uang, tapi pertimbangkan integritas saya selama ini."

    Adapula partai yang bersedia mendukungnya tanpa harus membayar mahar politik, yakni Partai Golkar dan Partai Kebangkitan Bangsa. Namun, jatah parpol hanya enam kursi, sedangkan kebutuhan Sebastian ada tujuh kursi. Kedua partai itu telah memberikan surat keputusan terkait dukungannya kepada Sebastian. "Tapi sudah saya kembalikan. Kan, saya batal maju," ujarnya.

    Selain itu, Sebastian bercerita ada salah satu parpol yang telah menyatakan dukungannya. Namun pernyataan tersebut diubah kembali. "Akhirnya saya menyimpulkan omongan orang partai itu bisa berubah kapan saja dan sulit dipegang komitmennya," ujarnya. (Lihat Video Pilkada Serentak 2015 Sepi Peminat)

    Akibat banyaknya kendala dari beberapa calon partai pendukungnya, Sebastian memutuskan tak akan maju pilkada dengan dukungan partai ataupun jalur independen. Saat ini dia telah mendirikan radio di NTT yang ditujukan untuk menampung aspirasi masyarakat setempat.

    "Melalui radio, saya harap segala ide, masukan, aspirasi, para pemuda bisa tersalurkan. Kritikan untuk pemerintah juga dapat disampaikan."

    DEWI SUCI RAHAYU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?