Tak Ada Calon Pimpinan Perempuan, Aisyiyah Meradang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah peserta membawa bendera organisasi saat mengikuti karnaval Muhammadiyah di Kawasan Pantai Losari, Makassar, 1 Agustus 2015. Karnaval yang diikuti ribuan peserta tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan  Mukhtamar Muhammadiyah ke-47 yang berlangsung di Makassar. TEMPO/Hariandi Hafid

    Sejumlah peserta membawa bendera organisasi saat mengikuti karnaval Muhammadiyah di Kawasan Pantai Losari, Makassar, 1 Agustus 2015. Karnaval yang diikuti ribuan peserta tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan Mukhtamar Muhammadiyah ke-47 yang berlangsung di Makassar. TEMPO/Hariandi Hafid

    TEMPO.COMakassar - Sidang tanwir Muhammadiyah yang dihadiri perwakilan wilayah dari seluruh Indonesia telah mengerucutkan 39 nama calon formatur tetap yang akan dipilih dalam sidang Muktamar Muhammadiyah yang akan dimulai Senin, 3 Agustus 2015. Dari 39 nama yang tersaring, tak satu pun calon perempuan lolos.

    "Padahal ada sejumlah nama kader terbaik Muhammadiyah dari unsur perempuan yang didorong," kata Ketua Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Norma Sari, Ahad, 2 Agustus 2015.

    Kader perempuan yang diajukan masuk dalam 13 formatur antara lain Ketua PP Aisyiyah Siti Noorjannah Djohantini, Rahmawati Husein, Isnawati Rais, dan Dyah Siti Nuraini. Namun tak satu pun dari mereka yang lolos dari total 82 calon formatur yang ada.

    Menurut Norma, pihaknya sangat menyayangkan unsur perempuan tidak masuk dalam jajaran calon formatur tetap tersebut. Padahal, menurut dia, semua bidang garap dakwah Muhammadiyah tetap perlu perspektif perempuan dan anak.

    Muhammadiyah juga dinilai tetap akan lebih ramah terhadap isu perempuan dan anak jika dalam jajaran kepemimpinannya ada unsur perempuan.

    Selain itu, gerakan pencerahan yang diusung Muhammadiyah di muktamar kali ini juga ditujukan untuk mengembangkan relasi sosial yang berkeadilan tanpa diskriminasi serta memuliakan martabat laki-laki dan perempuan. "Kami berharap unsur perempuan tetap masuk dalam kepemimpinan inti Muhammadiyah selanjutnya," ucap Norma.

    Ia berujar, sejak Muktamar Muhammadiyah Ke-46 di Yogyakarta, salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah adalah Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah secara ex officio. Hal ini mestinya dilanjutkan dengan tetap adanya unsur perempuan di luar ex officio tersebut.

    Sebab, dalam sejarah Muhammadiyah, perempuan pernah masuk dalam jajaran pimpinan. "Kiranya harapan ini tidak berlebihan mengingat sejak awal didirikan organisasi ini secara prinsip sangat mendorong kemajuan kaum perempuan," tutur Norma.

    Muhammadiyah selama ini juga mendorong dan mendukung penuh perempuan untuk berkiprah lebih luas mengisi posisi jabatan publik. "Perempuan adalah mitra dalam Muhammadiyah, bukan kompetitor, apalagi sekedar kanca wingking," kata Norma.

    Muktamar Muhammadiyah Ke-47 yang akan dimulai 3 Agustus besok di Makassar akan memilih ketua umum baru menggantikan Din Syamsuddin, yang sudah menjabat dua periode. Selain memilih ketua umum, muktamar tersebut juga akan membahas sejumlah isu strategis, salah satunya mengenai krisis air. Muktamar ini rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo.

    AWANG DARMAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.