Puluhan Titik Macet di Jalur Mudik Jawa Barat & Jawa Timur  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah kendaraan melewati proyek pembetonan jalan yang terbengkalai di Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 18 Juni 2015. Jalur utama arus mudik wilayah selatan di kawasan Nagreg berpotensi macet akibat proyek pembetonan dan beberapa bagian masih bergelombang. TEMPO/Prima Mulia

    Sejumlah kendaraan melewati proyek pembetonan jalan yang terbengkalai di Nagreg, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, 18 Juni 2015. Jalur utama arus mudik wilayah selatan di kawasan Nagreg berpotensi macet akibat proyek pembetonan dan beberapa bagian masih bergelombang. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung – Kepolisian Daerah Jawa Barat memetakan ada 19 titik kemacetan di sepanjang jalur utama mudik di wilayahnya pada tahun ini. Pemetaan dilakukan bukan hanya memperhitungkan volume kendaraan yang bakal melonjak, tapi juga keberadaan aktivitas pasar kaget, perlambatan karena adanya jalur lintasan kereta api, dan parkir bahu jalan.

    Polisi setempat menyiapkan antisipasi, di antaranya sistem buka-tutup atau penerapan satu arah dan pengalihan arus di titik-titik tersebut. “Mudah-mudahan bisa menjadi penunjang indikator keberhasilan dalam mengantisipasi masalah arus mudik nanti,” kata Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Moechgiyarto, 25 Juni 2015.

    Kepala Kepolisian Resor Garut Ajun Komisaris Besar Arif Rachman mengatakan, pihaknya mewaspadai tiga titik, di antaranya Pasar Limbangan, Malangbong, dan Cibatu. Wilayah Garut merupakan bagian dari jalur selatan arus mudik.

    Selain itu, jalur Cijapati dengan jalan yang mulus dan memiliki terowongan panjang, disebutkannya pula, berpotensi menambah daftar titik macet karena menarik minat para pemudik. “Kami mengimbau pemudik mengetahui jalur-jalur alternatif juga,” kata dia.

    Sementara itu, pemudik yang melintas di wilayah Provinsi Jawa Timur diminta mewaspadai 13 titik rawan kemacetan. Titik itu di antaranya tersebar di Jalur Pantura, yakni Pasar Tambakboyo di Tuban, serta Pasar Babat dan Dusuk Sampeyan di Lamongan.

    Volume kendaraan juga diperkirakan bakal membuat macet di Simpang Medaeng di Sidoarjo dan beberapa titik di Mojokerto, Probolinggo, Pasuruan, dan Kabupaten Malang. Di wilayah Kabupaten Pasuruan, kemacetan di antaranya berpotensi terjadi di pertigaan depan pintu masuk jalan tol Pandaan.

    “Dari semua titik kemacetan itu, yang harus paling diwaspadai pemudik baik di masa arus mudik maupun balik tetap di Jalur Pantura,” ujar Kepala Dinas Perhubungan dan Lalu Lintas Angkutan Jalan Jawa Timur Wahid Wahyudi di sela-sela peresmian Gedung Terminal Keberangkatan Bandar Udara Abdulrachman Saleh di Kabupaten Malang, Kamis sore lalu.

    Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan akan segera mengumpulkan 13 gubernur untuk membahas kelancaran arus mudik dan penyiapan angkutan Lebaran 2015. Ada banyak hal yang ingin dibahasnya, antara lain pengaturan terminal, tarif angkutan umum, serta keberadaan pasar tumpah. “Pekan depan saya akan undang ke-13 gubernur itu,” kata dia.

    Berdasarkan Rencana Operasi Angkutan Lebaran Terpadu 2015/1436 Hijriah yang sudah dibuat, Jonan mengungkapkan Kementerian Perhubungan juga memperhatikan jumlah pemudik yang menggunakan sepeda motor. Jumlah mereka yang disebutkannya terus meningkat diantisipasi lewat penyelenggaraan mudik gratis. “Tapi kami tidak bisa larang orang mudik menggunakan kendaraan pribadi,” kata dia.

    Mantan Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia itu memprediksi pengguna empat moda transportasi selama masa libur Lebaran meningkat 2–9 persen. Jumlah pengguna kereta api diprediksi naik paling tinggi, sebesar 9 persen. Pengguna bus naik 5 persen, kapal laut naik 3 persen, dan pesawat terbang 2–3 persen.

    AMINUDIN | ABDI PURMONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.