Sel Kamp Nazi dan Lubang Busuk  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pengunjung berjalan antara pagar berduri-kabel listrik bekas kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz-Birkenau, Polandia (18/11). REUTERS/Kacper Pempel

    Seorang pengunjung berjalan antara pagar berduri-kabel listrik bekas kamp konsentrasi Nazi di Auschwitz-Birkenau, Polandia (18/11). REUTERS/Kacper Pempel

    TEMPO.CO, Jakarta - Parlindoengan Loebis (1910-1994), seorang dokter, dalam otobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi Nazi, bercerita soal kengerian yang dirasakan selama masa penahanan. Ketua Perhimpoenan Indonesia di Belanda periode 1936-1940 ini diciduk tentara Nazi pada akhir Juni 1941. Pada era itu, Perhimpoenan Indonesia di Belanda gencar melawan fasisme Jerman. (Baca: Kamp Konsentrasi Nazi, Menebar Kengerian di Eropa)

    "... Aku dimasukkan ke sebuah sel yang telah dihuni oleh tiga orang. Besar ruangan itu tiga kali tiga meter dan mempunyai dua tempat tidur besi tanpa kasur.... Dalam ruangan itu ada sebuah lubang di mana kami dapat buang air kecil dan besar. Lubang itu ditutup dengan sebilah kayu saja. Siapa yang tidur dekat lubang itu akan mencium bau yang amat busuk...," tulisnya seperti dikutip dari majalah Tempo edisi September 2006. (Baca: Dokter Indonesia Ini Diciduk oleh Tentara Nazi)

    Parlindoengan diciduk dua polisi rahasia Belanda di rumah sekaligus tempat prakteknya sebagai dokter di Amsterdam. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Leiden, Belanda, itu dibawa ke Euterpestraat, markas Gestapo, polisi rahasia Nazi Jerman. (Baca: Hitler Ubah Kumis, Ini alasannya)

    Sejak itu, lelaki berdarah Batak tersebut harus meringkuk di empat kamp konsentrasi Nazi selama empat tahun: Kamp Schoorl dan Amersfoort di Belanda, serta Buchenwald dan Sachsenhausen di Jerman. (Baca: Kapal Selam Pertama TNI Bukan dari Jerman Tapi Soviet)

    Parlindoengan lahir pada 30 Juni 1910 di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Ia datang dari keluarga berada sehingga memungkinkannya bersekolah hingga sarjana. Setamat MULO (setingkat sekolah menengah pertama) di Medan pada 1927, ia melanjutkan ke AMS (sekolah menengah atas) di Jakarta. (Baca: Tahanan Nazi Asal Indonesia: Bangkai Jadi Rebutan)

    Sudah sejak di Jakarta Parlindoengan aktif dalam dunia politik. Ia berhubungan dengan para pelajar nasionalis yang getol membangkitkan kesadaran politik kalangan muda. Pada 1932, saat menjadi mahasiswa kedokteran di Universitas Leiden, Belanda, ia bergabung dengan Perhimpoenan Indonesia. (Baca: Kapal Selam Jerman Gunakan Minyak Racikan Jakarta)

    TIM TEMPO

    Topik terhangat:

    Kapal Selam Jerman | Kasus Munir | Rekening Gendut Kepala Daerah | Perpu Pilkada

    Berita terpopuler lainnya:
    Inikah Transaksi Rekening Gendut Foke? 
    Beri Jalan ke Jokowi, Sultan Yogya Dipuji Habis 
    Refly dan Todung Seleksi Hakim MK, Jokowi Diprotes 
    Cerita Ahok Saat Kaca Spionnya Dicoleng


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    WhatsApp Pay akan Meluncurkan E - Payment, Susul GoPay dan Ovo

    WhatsApp akan meluncurkan e-payment akhir tahun 2019 di India. Berikutnya, WhatsApp Pay akan melebarkan layanannya ke Indonesia.