Anak Tukang Becak Miskin Tidak Dilarang Sukses  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Raeni saat diantar ayahnya, Mugiyono yang seorang tukang becak untuk menghadiri wisudanya (10/6). TEMPO/Budi Purwanto

    Raeni saat diantar ayahnya, Mugiyono yang seorang tukang becak untuk menghadiri wisudanya (10/6). TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Raeni, anak tukang becak yang menjadi wisudawan terbaik dengan IPK 3,96 di Universitas Negeri Semarang, tidak pernah merasa kondisi ekonomi keluarganya menjadi penghalang. Malah, gadis kelahiran 13 Januari 1993 ini merasa risih jika keberhasilannya dikaitkan dengan keterbatasan ekonomi keluarganya. "Memangnya orang miskin tak boleh berprestasi?" ujarnya.

    Meski demikian, Raeni berharap pengalamannya bisa menginspirasi orang lain. "Orang miskin tidak dilarang sukses, kok," ujarnya. Pada saat upacara wisuda, Raeni, yang datang dengan naik becak yang dikayuh ayahnya, memberikan pidato mewakili para wisudawan.

    Untuk menambah uang saku yang terbatas, Raeni menjadi asisten di laboratorium ekonomi kampusnya. Dia juga memberi kursus privat akuntansi kepada siswa SMA dengan honor sukarela. Tiap Sabtu dan Ahad ia memilih pulang ke Kendal dan mengajar anak-anak mengaji di taman pendidikan Al-Quran di kampungnya. (Baca:Anak Tukang Becak ini Lulus dengan IPK 3,96)

    Untuk menjalankan prinsip efisiensi, gadis berjilbab ini hanya mengikuti organisasi kemahasiswaan yang menunjang prestasi akademik, antara lain Kelompok Studi Ekonomi Islam, Himpunan Mahasiswa Ekonomi, Komunitas Ilmiah Mahasiswa Ekonomi, serta Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian. Di luar kampus, ia aktif di Ikatan Akuntan Indonesia dan Pramuka di Kendal.

    Jika merasa suntuk, alumnus jurusan akuntansi SMK 1 Kendal ini memilih ke Masjid Al-Barokah yang letaknya tak jauh dari tempat kosnya untuk mengaji atau melantunkan maulid nabi. "Kalau ke mal boros juga kan?" Ia juga tergabung dalam One Day One Juzz, grup yang "mewajibkan" anggotanya membaca Al-Quran minimal satu juz setiap hari.

    Setelah diberitakan sebagai wisudawan terbaik, peraih beberapa juara lomba karya ilmiah ini ditawari pekerjaan sebagai akuntan di salah satu perusahaan alat berat dan properti di Jakarta. Kendati memikirkan tawaran itu, Raeni sebenarnya bercita-cita menjadi guru atau dosen sambil mencari beasiswa kuliah ke luar negeri dan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

    Dorongan menjadi pendidik, kata Raeni, sesuai dengan nasihat orang tuanya. "Ilmu akan menjadi berkah jika ditularkan kepada yang lain," ujarnya, menirukan nasihat ayahnya. Pengalamannya menjadi pendidik akan dijadikannya sebagai proposal riset saat menempuh magister kelak. Kapan? "Insya Allah, ada jalan." (Baca:Anak Tukang Becak Ini Terima Beasiswa ke Inggris)

    Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Universitas Negeri Semarang Sucipto Hadi Purnomo mengatakan prestasi Raeni makin menyemangati Unnes sebagai universitas yang paling banyak menerima mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi secara nasional. "Dan sebagian besar mahasiswa Unnes penerima beasiswa Bidikmisi, prestasi akademiknya bagus," ujarnya.


    SOHIRIN

    Terpopuler:
    Anak Tukang Becak Ini Terima Beasiswa ke Inggris

    Anak Tukang Becak ini Lulus dengan IPK 3,96

    Fasilitas Kaum Cacat Diduga Dikorupsi, KPK Kaget

    Sumbangan untuk Jokowi-JK Capai Rp 35 Miliar  





     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.