Kasus Pemaksaan Jilbab Terulang Lagi di Sragen, KPAI: Bukti Moderasi Beragama Belum Cukup Baik

Reporter

Editor

Juli Hantoro

Ilustrasi Persekusi / Bullying. shutterstock.com

TEMPO.CO, Jakarta - Seorang siswi SMAN di Sragen berinisial S diduga mendapatkan perundungan dari guru matematikanya karena tak mengenakan jilbab. S dimarahi di depan kelas hingga akhirnya enggan berangkat ke sekolah.

Usai kejadian pemaksaan jilbab tersebut, S sempat mau untuk berangkat ke sekolah. Namun, karena diduga dibully oleh kakak kelas, S minta dijemput pulang dan enggan masuk sekolah lagi. S juga memiliki adik yang bersekolah di tempat yang sama, adiknya pun akhirnya tidak berani ke sekolah juga.

Orang tua S yang berinisial AP mengadukan dugaan perundungan ini ke Polres Sragen karena anaknya mengalami tekanan psikis. Guru matematikanya yang berinisial SW akhirnya meminta maaf usai diadukan ke polisi oleh keluarga S. 

Atas kasus tersebut, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI Retno Listyarti mengecam adanya bullying terhadap murid berinisial S tersebut. KPAI, kata Retno mencatat ada kasus serupa di Gemolong, Sragen, pada 2020 lalu. Saat itu siswa tersebut akhirnya mutasi ke sekolah lain akibat perundungan karena tak memakai jilbab di sekolah.

Baca juga: Dugaan Pemaksaan Jilbab, Pemerintah DIY Upayakan Rekonsiliasi

"Kasus ini menunjukkan bahwa literasi dan moderasi beragama di dunia pendidikan masih belum cukup baik," kata Retno. Kondisi tersebut akhirnya memberi kontribusi terjadinya intoleransi. Misalnya pelarangan maupun pemaksaan pemakaian jilbab yang merupakan simbol dan identitas kepada pihak lain.

Menurut Retno, masih sedikit kehadiran pemimpin-pemimpin nasional dan lokal yang biajksana. "Kehadiran mereka sangat dibutuhkan untuk menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Karena kebijaksanaan, mereka tidak mewajibkan yang tidak wajib," ujar dia.

Sebaliknya, kata Retno, mereka jangan melarang hal yang tidak seharunya dilarang hukum positif yang berlaku di negeri yang majemuk ini. Kerap kali aturan seragam di sekolah merupakan pelaksanaan dari Peraturan Daerah di wilayah tersebut. 

Retno mengatakan, meskipun aturan pemakaian seragamnya jelas, namun bukan cuma muncul kasus pemaksaan, tapi juga muncul kasus pelarangan penggunaan jilbab setiap tahun ajaran baru.

Contohnya saja seperti kasus di Gunungsitoli, Sumatera Utara pada 2022. Seorang Kepala Sekolah di tempat itu, melarang seorang murid kelas VI memakai jilbab dengan alasan keseragaman. Hal tersebut dikarenakan murid di sekolah itu sebagian besar beragama Kristen dan Katolik.

Kasus mewajibkan jilbab di satuan pendidikan, bahkan yang beragama non Islam pun akhirnya juga mengenakan jilbab saat bersekolah, misalnya seperti yang terjadi di Padang, Sumatera Barat pada 2021 lalu.

Baca juga:  Dugaan Pemaksaan Jilbab, Sultan HB X Minta Sekolah Tak Main Tafsir

NESA AQILA






Kisah Ted Bundy Serial Killer Asal Amerika Serikat Tamat di Kursi Listrik

6 hari lalu

Kisah Ted Bundy Serial Killer Asal Amerika Serikat Tamat di Kursi Listrik

Pada 24 Januari 1989, salah satu serial killer atau pembunuh berantai paling kejam dieksekusi. Dia dikenal dengan nama Ted Bundy.


Dampak Perundungan Anak yang Harus Diwaspadai Orang Tua

7 hari lalu

Dampak Perundungan Anak yang Harus Diwaspadai Orang Tua

Psikiater mengungkapkan dampak perundungan yang tidak terpantau orang tua dapat membentuk karakter negatif pada anak.


Anak Jadi Korban Bullying, Ini 6 Cara Orang Tua Membantu Mereka

10 hari lalu

Anak Jadi Korban Bullying, Ini 6 Cara Orang Tua Membantu Mereka

Bullying menyebabkan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Inilah cara orang tua membantu anak menghadapi intimidasi.


Kisah Fajar Sidik Abdullah, Anak Buruh Tani Sragen Masuk Top 20 Insinyur Muda versi James Dyson Award

13 hari lalu

Kisah Fajar Sidik Abdullah, Anak Buruh Tani Sragen Masuk Top 20 Insinyur Muda versi James Dyson Award

Fajar Sidik Abdullah Kelana asal Sragen dinobatkan menjadi 20 insinyur dan inovator muda terbaik dunia versi James Dyson Award. Begini perjuangannya.


Skenario Perampokan Wali Kota Blitar Digodok Pelaku di Lapas Sragen

15 hari lalu

Skenario Perampokan Wali Kota Blitar Digodok Pelaku di Lapas Sragen

Polisi telah menangkap tiga pelaku perampokan Wali Kota Blitar di rumah dinasnya. Mereka telah merancangnya sejak dari dalam Lapas Sragen.


FSGI Dukung Pelarangan Lato-lato Dibawa ke Sekolah, Ini Alasannya

18 hari lalu

FSGI Dukung Pelarangan Lato-lato Dibawa ke Sekolah, Ini Alasannya

FSGI mendukung kebijakan sejumlah Dinas Pendidikan di beberapa daerah perihal pelarangan lato-lato dibawa ke sekolah.


Kenali Tanda dan Gejala Anak Korban Bullying

22 hari lalu

Kenali Tanda dan Gejala Anak Korban Bullying

Masalah perundungan alias bully tidak boleh dianggap remeh. Kenali tanda, gejala serta dampak yang bisa dialami anak karena menjadi korban bullying


KPAI MInta Dampak Kejahatan yang Dialami Korban Penculikan Anak Diperiksa Serius

26 hari lalu

KPAI MInta Dampak Kejahatan yang Dialami Korban Penculikan Anak Diperiksa Serius

KPAI minta pemeriksaan korban penculikan dilakukan serius untuk menemukan dampak kejahatan maupun eksploitasi.


Kasus Penculikan Anak di Gunung Sahari, KPAI Imbau Orang Tua Sadar Potensi Kejahatan Incar Anak

26 hari lalu

Kasus Penculikan Anak di Gunung Sahari, KPAI Imbau Orang Tua Sadar Potensi Kejahatan Incar Anak

Orang tua korban penculikan anak perlu mendapat edukasi bahwa kasus penculikan kerap melibatkan orang-orang dekat sebagai pelaku.


KPAI Minta Fisik dan Mental Korban Penculikan Anak MA Diperiksa Mendalam

26 hari lalu

KPAI Minta Fisik dan Mental Korban Penculikan Anak MA Diperiksa Mendalam

Komisioner KPAI Sylvana Apituley meminta korban penculikan anak, MA, diperiksa secara mendalam. Sebab, MA lama bersama pelaku, yaitu 26 hari.