Emilda Menjemput Novel Baswedan Hari Terakhir di Gedung KPK: Saya Bangga

Reporter:
Editor:

S. Dian Andryanto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Penyidik senior KPK, Novel Baswedan bersama istrinya, Rina Emilda hadir dalam aksi damai yang digelar para pimpinan KPK bersama Koalisi Masyarakat Sipil, di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. Dalam aksi damai ini mereka menuntut penuntasan sembilan kali teror terhadap pimpinan maupun pegawai KPK, salah satunya kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, serta mendesak Pemerintah agar segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta. TEMPO/Imam Sukamto

    Penyidik senior KPK, Novel Baswedan bersama istrinya, Rina Emilda hadir dalam aksi damai yang digelar para pimpinan KPK bersama Koalisi Masyarakat Sipil, di gedung KPK, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019. Dalam aksi damai ini mereka menuntut penuntasan sembilan kali teror terhadap pimpinan maupun pegawai KPK, salah satunya kasus penyiraman air keras kepada Novel Baswedan, serta mendesak Pemerintah agar segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta -  “Saya menjemput dengan bangga karena tidak ada kode etik yang dilanggar,” kata Rina Emilda, di Gedung Anti-Corruption Learning Center, Kamis, 30 September 2021, saat ia menjemput suaminya, Novel Baswedan.

    Itu adalah hari terakhir penyidik senior KPK itu berkantor di Gedung KPK, setelah diberhentikan pimpinan KPK bersama 57 pegawai KPK lain yang dianggap tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK).

    Emilda menganggap justru TWK yang melanggar hak suaminya. Dia mengatakan, suaminya disingkirkan lewat tes itu.

    Perempuan yang menikah dengan Novel Baswedan sejak 2003 itu menceritakan ia dan beberapa istri 57 pegawai KPK dan para peguat antikorupsi melakukan penjemputan Kamis, lalu. “Mas NB bersama rekan-rekan 57 keluar dari Gedung KPK sekitar pukul 13.00, sementara saya dan para tokoh antikorupsi yang ingin menjemput tertahan di dekat Gedung Imperium karena ada blokade dari polisi, sehingga suami saya dan yang lain berjalan menuju gedung KPK lama ( ACLC) dan bertemu dengan saya  dan yang lain di dekat perempatan Gedung Imperium,” katanya, kepada Tempo.co.

    Menurut Emilda, penyambutan berlangsng dengan haru tapi penuh semanga. “Saya bangga kepada suami dan rekan-rekan yang selama ini berjuang memberantas korupsi dan yang turut membangun KPK,” kata Emilda. Selanjutnya, mereka bersama-sama menuju gedung KPK lama untuk memdengarkan orasi dan sambutan dari para tokoh.

    Beberapa mantan komisioner KPK seperti Saut Situmorang, Bambang Widjojanto, Busyiro Muqoddas dan Abraham Samad serta pegiat antikorupsi lain menyambut mereka dan melakukan orasi, saat itu.

    Emilda menceritakan perasaannya saat itu. “Ada rasa sedih karena ada perbuatan sewenang-wenang, tuduhan dan stigma yang tidak berdasar dan sangat tidak masuk akal kepada suami saya dan 57 pegawai KPK lain itu,  mengingat orang-orang terbaik di KPK jutru malah disingkirkan,” ujarnya.

    “Tapi di sisi lain, saya bangga karena suami saya dan rekan-rekannya tetap konsisten untuk menegakkan kebenaran keadilan dan berani melawan kedzaliman,” kata dia.

    Baca: Istri Novel Baswedan: Suami Saya Tak Pernah Langgar Kode Etik Hingga Hari ini


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 3 selama Nataru Batal, Ini Aturan Baru yang Diterapkan

    Rencana PPKM Level 3 di seluruh tanah air selama Natal dan Tahun baru telah batal ditetapan. Gantinya, ada aturan baru pengganti pada periode Nataru.