Kimia Farma Bebastugaskan Karyawannya yang Ditangkap Densus 88

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel Densus 88 Anti Teror membawa terduga teroris ke dalam bus di Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 18 Maret 2021. Sebanyak 22 orang terduga teroris dipindahkan dari Rumah Tahanan Polda Jawa Timur ke Jakarta. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

    Personel Densus 88 Anti Teror membawa terduga teroris ke dalam bus di Polda Jawa Timur, Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 18 Maret 2021. Sebanyak 22 orang terduga teroris dipindahkan dari Rumah Tahanan Polda Jawa Timur ke Jakarta. ANTARA FOTO/Didik Suhartono

    TEMPO.CO, Jakarta - PT Kimia Farma menyatakan tidak mentoleransi terorisme dalam bentuk apa pun, termasuk di internal perusahaan. Perusahaan pelat merah itu menyatakan mendukung aparat dalam memerangi terorisme.

    "Kimia Farma sangat mendukung sepenuhnya upaya seluruh aparat penegak hukum guna memerangi terorisme di seluruh lingkungan perusahaan," ujar Direktur Utama PT Kimia Farma Tbk Verdi Budidarmo dalam siaran persnya, Senin, 13 September 2021.

    Budidarmo menyatakan mendukung upaya aparat penegak hukum untuk memproses secara hukum atas tindakan yang dilakukan oleh oknum karyawannya sesuai dengan hukum yang berlaku.

    Hal itu diungkapkan Budidarmo menyusul adanya penangkapan terduga teroris Densus 88 Antiteror Polri di Bekasi, diduga karyawan PT Kimia Farma.

    Dalam keterangan tertulis itu disampaikan, setelah menerima informasi penangkapan terduga teroris kelompok Jamaah Islamiyah (JI) berinisial S yang ditangkap di Bekasi, Jawa Barat, Jumat (10/9), Kimia Farma melakukan penelusuran. Hasil penelusuran tersebut dipastikan S merupakan karyawan PT Kimia Farma.

    Budidarmo menyatakan karyawannya itu saat ini sudah diskorsing dan pembebasan tugas sementara waktu. Ini dilakukan selama S menjalani pemeriksaan oleh pihak yang berwajib terhitung sejak 10 September 2021.

    Menurut dia, apabila karyawan tersebut terbukti bersalah secara hukum maka akan dikenakan sanksi pelanggaran berat sesuai peraturan perusahaan yang berlaku berupa pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan tidak hormat dan otomatis sudah tidak menjadi bagian dari perusahaan.

    Jika yang bersangkutan tidak terbukti bersalah atas dugaan terlibat dalam jaringan terorisme, Kimia Farma akan melakukan tindakan mendukung pemulihan nama baiknya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Selamat Jalan KPK

    Berbagai upaya melemahkan posisi KPK dinilai tengah dilakukan. Salah satunya, kepemimpinan Firli Bahuri yang dinilai membuat kinerja KPK jadi turun.