Menkes Budi Gunadi Pantau Vaksinasi AstraZeneca di PWNU Jawa Timur

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas medis mempersiapkan vaksin COVID-19 AstraZeneca saat vaksinasi masal di kawasan Sanur, Denpasar, Bali, Senin, 22 Maret 2021. Vaksinasi masal ini digelar sebagai upaya mempercepat pemulihan kesehatan dan pariwisata. Johannes P. Christo

    Petugas medis mempersiapkan vaksin COVID-19 AstraZeneca saat vaksinasi masal di kawasan Sanur, Denpasar, Bali, Senin, 22 Maret 2021. Vaksinasi masal ini digelar sebagai upaya mempercepat pemulihan kesehatan dan pariwisata. Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Surabaya - Sebanyak 100 kiai dan tokoh Nahdlatul Ulama menjalani vaksinasi Covid-19 jenis AstraZeneca di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Jalan Masjid Al-akbar, Surabaya, Selasa, 23 Maret 2020. Kegiatan tersebut dipantau langsung Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikan dan perwakilan dari WHO dan UNICEF.

    Dalam acara vaksinasi massal ini, empat kiai muda atau biasa dipanggul Gus mendapatkan kesempatan pertama untuk disuntik vaksin asal Inggir tersebut. Mereka adalah KH. Muhammad Muslih dari Lumajang, KH. Jazuli Soleh Qosim dari Sidoarjo, KH Ainul Mubarok asal Mojokerto, serta KH Lukman Hakim.

    Budi Gunadi mengatakan dengan dilaksanakannya acara vaksin untuk kiai ini diharapkan dapat menyakinkan rakyat Indonesia mau divaksin Covid-19 jenis AstraZeneca. "Mudah-mudahan dengan kiai dari NU berkenan divaksin ini bisa membangkitkan semua masyarakat bahwa vaksin ini aman dan halal dipakai," kata dia saat memberikan sambutan.

    Wakil Rais Syuriah PWNU Jawa Timur Anwar Iskandar berujar vaksinasi merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kesehatan keselamatan jiwa. "Menjaga keselamatan jiwa itu menurut agama adalah bagian pokok dari tujuan syariat itu diselenggarakan," ujarnya. Karena itu, kata dia, wajib bagi umat Islam, khususnya warga NU, mengikuti vaksin.

    PWNU Jawa Timur telah memutuskan bahwa vaksin jenis AstraZeneca halal. Fatwa yang diambil dalam sidang Bahtsul Masail pada 10 Maret 2021 itu berbeda dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang menyatakan vaksin AstraZeneca haram karena memanfaatkan tripsin babi dalam proses pembuatannya, namun tetap boleh digunakan dalam kondisi darurat.

    NUR HADI

    Baca Juga: Menilik Alasan Beda Label Halal-Haram Vaksin AstraZeneca


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto