Polri Dalami Dugaan Keterlibatan Tokoh Pesantren yang Terafiliasi Jaringan JI

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 membawa terduga teroris dari Lampung setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, 16 Desember 2020. Para tersangka terorisme yang ditangkap di Lampung itu diduga merupakan teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI). ANTARA/Muhammad Iqbal

    Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88 membawa terduga teroris dari Lampung setibanya di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Rabu, 16 Desember 2020. Para tersangka terorisme yang ditangkap di Lampung itu diduga merupakan teroris jaringan Jamaah Islamiyah (JI). ANTARA/Muhammad Iqbal

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepolisian RI bakal mendalami dugaan keterlibatan tokoh pondok pesantren yang terafiliasi kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI).

    "Diduga seperti itu, ada keterlibatan juga daripada tokoh-tokoh di pondok pesantren itu," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Rusdi Hartono melalui konferensi pers daring pada Selasa, 29 Desember 2020.

    Kendati demikian, Rusdi belum merinci pondok pesantren yang diduga terafiliasi dengan kelompok JI. Namun ia memastikan bahwa informasi tersebut benar lantaran didapat setelah melakukan pemeriksaan terhadap salah satu narapidana teroris bernama Joko Priyono.

    "Sekarang masih pendalaman densus pada saatnya nanti akan disampaikan pondok pesantren di mana saja yang direkrut berdasarkan hasil penyelidikan Tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri," kata Rusdi.

    Sebelumnya, Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jenderal Argo Yuwono menyebut jaringan teroris JI merekrut kader baru yang umumnya adalah anak-anak muda cerdas dari beberapa pondok pesantren secara profesional. Target jaringan tersebut mendapatkan anak pondok pesantren dengan ranking 1-10 di untuk dijadikan pemimpin masa depan JI.

    “Tiap angkatan 10-15 orang dari Pulau Jawa dan dari luar Pulau Jawa. Total sudah tujuh angkatan sebanyak 96 anggota muda yang dilatih di sejumlah sasana yang tersebar di beberapa wilayah di Jawa Tengah," kata Argo lewat keterangan tertulis, Ahad, 27 Desember 2020.

    Para kader muda itu dilatih bela diri menggunakan senjata tajam seperti samurai dan pedang. Termasuk juga menggunakan senjata api, merakit bom, menjadi ahli perbengkelan, ahli tempur sampai ahli sergap yang mereka sebut sebagai pasukan khusus dengan seragam khusus.

    ANDITA RAHMA | DEWI NURITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Potongan Janggal Hukuman Djoko Tjandra, Komisi Yudisial akan Ikut Turun Tangan

    Pengadilan Tinggi DKI Jakarta mengabulkan banding terdakwa Djoko Tjandra atas kasus suap status red notice. Sejumlah kontroversi mewarnai putusan itu.