Busyro Muqoddas: Proses Pilkada Selalu Disertai Cukong

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Busryo Muqoddas. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    Busryo Muqoddas. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, mengatakan Pemilu dan Pilkada kerap diartikan sebagai demokrasinya para cukong. Hal ini disebabkan masih adanya tingkat korupsi yang tinggi sepanjang 2004 hingga 2019 di berbagai daerah.

    “Proses pilkada selalu ditandai dengan cukongisasi, cukongisme. Tentu cukong mengatur APBD, perizinan, dan semacamnya, didesain dalam kerangka kebutuhan bisnis mereka, bisnis yang gelap,” ujar dia dalam webinar pada Rabu, 30 September 2020.

    Busyro mengatakan dominasi cukong sebagai rentenir politik bisa memperkuat praktek politik uang (money politics).

    Persoalan lain yang disebutkan adalah terkait dominasi dinasti politik dari elit istana kepresidenan bersama elit partai politik dan elit bisnis. “Pertanyaannya, apakah ini pupuk atau racun demokrasi,” tuturnya.

    Dia berpendapat dampak dari menguatnya dinasti oligarki politik adalah tersendatnya peluang penampilan kader unggulan yang berintegritas dalam parpol maupun dari berbagai elemen masyarakat sipil.

    Masalah dalam demokrasi di Indonesia dianggap telah menimbulkan situasi pelemahan dan pelumpuhan sistemik atas lembaga-lembaga penegak hukum seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, Kejaksaan, dan Polri, dan Peradilan.

    “Yang paling mengerikan itu UU MK (Mahkamah Konstitusi) baru saja direvisi dalam waktu 7 hari dan  tertutup, dimana hakim MK langsung diberi prubahan umur bekerjanya sampai 70 tahun. Ada apa ini?” sebut Busyro.'

    MUHAMMAD BAQIR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Cuitan Penyebab Polisi Mengira Syahganda Dalang Demo UU Cipta Kerja

    Polisi menangkap Syahganda Nainggolan sebagai dalang kerusuhan UU Cipta Kerja.