Anggota DPR Sebut Biaya Perawatan Covid di Singapura Lebih Murah

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelanggan yang antri untuk memotong rambut mereka di salon, diperiksa suhu tubuh mereka, saat dibuka kembali bisnis di tengah wabah penyakit Virus Corona di Singapura, 12 Mei 2020. REUTERS/Edgar Su

    Pelanggan yang antri untuk memotong rambut mereka di salon, diperiksa suhu tubuh mereka, saat dibuka kembali bisnis di tengah wabah penyakit Virus Corona di Singapura, 12 Mei 2020. REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo meminta biaya perawatan pasien Covid-19 di Indonesia dievaluasi. Sebab, kata dia, ada perbedaan signifikan dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura.

    "Perbedaannya sangat signifikan. Makanya saya kira, apakah biaya yang mahal ini wajar dan sudah sesuai dengan fasilitas perawatan," ujar Rahmad dalam keterangannya di Jakarta, Ahad, 31 Mei 2020.

    Rahmad menuturkan, di Indonesia, biaya perawatan seorang pasien berkisar antara Rp 150 juta hingga Rp 215 juta. Sedangkan di Singapura hanya Rp 61 juta hingga Rp 82 juta.

    Politikus PDIP itu mengatakan, dewan sangat setuju semua biaya perawatan pasien Covid-19 ditanggung oleh negara. Ia juga mengapresiasi tunjangan dan berbagai fasilitas yang diberikan negara kepada tenaga medis.

    "Berapapun anggaran yang diperlukan memang harus dikucurkan oleh negara, karena keselamatan pasien adalah yang utama dan terpenting. Namun, perbedaan biaya yang besar itu membuat kita harus membuka mata. Perlu evaluasi dan mengedepankan efisiensi," kata Rahmad.

    Rahmad mengungkapkan, sempat mendengar suara-suara yang menyatakan beberapa pihak rumah sakit merasa penanganan pasien Covid-19 cukup menggiurkan.

    "Menggiurkan dalam tanda petik ya. Makanya sekali lagi saya tanya, apakah biaya yang dikeluarkan sudah sesuai dengan fasilitas dan perawatan yang diberikan kepada pasien," ujar Rahmad.

    Rahmad mengatakan, ia bisa memaklumi biaya perawatan pasien Covid-19 bertambah mahal karena para pasien yang sudah cukup sehat pun harus tertahan di rumah sakit karena menunggu hasil diagnosa polymerase chain reaction (PCR).

    "Menunggu hasil tes PCR itu kan beberapa hari, sedangkan pasien itu sudah cukup sembuh. Kondisi ini tentunya menambah biaya. Mungkin kondisi seperti ini perlu disiasati," ujar Rahmad.



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Maria Pauline Lumowa, Pembobol Bank BNI Diekstradisi dari Serbia

    Tersangka kasus pembobolan Bank BNI, Maria Pauline Lumowa diekstradisi dari Serbia. Dana Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun diduga jadi bancakan proyek.