Harun Masiku Baru Gabung PDIP Menjelang Pemilu 2019

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Uang dolar Singapura dan buku tabungan sebagai barang bukti OTT Komisioner KPU RI, di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020. Empat orang tersangka tersebut yaitu: Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan, mantan anggota Badan Pengawas Pemilu, Agustiani Tio Fridelina dan pemberi suap Harun Masiku dan Saeful. TEMPO/Imam Sukamto

    Uang dolar Singapura dan buku tabungan sebagai barang bukti OTT Komisioner KPU RI, di gedung KPK, Jakarta, Kamis, 9 Januari 2020. Empat orang tersangka tersebut yaitu: Komisioner Komisi Pemilihan Umum RI, Wahyu Setiawan, mantan anggota Badan Pengawas Pemilu, Agustiani Tio Fridelina dan pemberi suap Harun Masiku dan Saeful. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Komarudin Watubun mengaku tak mengenal calon legislator Dewan Perwakilan Rakyat PDIP Harun Masiku.

    "Ah itu juga orang baru itu, saya sendiri baru dengar itu," kata Komarudin di Jiexpo Kemayoran, Jakarta Pusat, 11 Januari 2020.

    Komarudin mengatakan Harun baru bergabung dengan PDIP menjelang Pemilu 2019. Politikus senior ini juga mengaku tak banyak mengenal calon baru itu. "Karena kemarin katanya baru masuk juga di calon partai kemarin. Makanya saya sendiri tidak banyak mengenal orang calon itu," ujar dia.

    Nama Harun mencuat setelah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan dalam rangkaian operasi tangkap tangan. Harun diduga menyuap Wahyu agar bisa menjadi anggota DPR lewat jalur pergantian antarwaktu (PAW). KPK telah mentepakan Harun sebagai tersangka.

    Persoalan ini bermula ketika caleg PDIP Nazarudin Kiemas dari daerah pemilihan Sumatera Selatan I, yang meraih suara terbanyak, meninggal dua pekan sebelum Pemilu 2019. PDIP kemudian mengajukan uji materi ke Mahkamah Agung agar suara Nazarudin dikembalikan kepada partai dan partai diberi kewenangan menentukan PAW.

    MA mengabulkan uji materi itu. PDIP kemudian bersurat kepada KPU dan mengusulkan nama Harun. Namun KPU menolak dan menetapkan Riezky Aprilia, peraih suara terbanyak setelah Nazarudin. Ketua KPU Arief Budiman menyebut PDIP masih dua kali lagi bersurat ke lembaganya untuk mengusulkan PAW Riezky dengan Harun.

    Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya mengajukan Harun karena dinilai bersih. "Dia (Harun Masiku) sosok bersih dan dalam upaya pembinaan hukum juga selama ini cukup baik track record-nya," ujar Hasto di JI-Expo Kemayoran, Jakarta pada Kamis, 9 Januari 2020.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.