Karhutla di Jawa Timur, Butuh Tambahan Helikopter Pemadam Api

Reporter:
Editor:

Jobpie Sugiharto

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Arjuno yang membumbung terlihat dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, Senin, 21 Oktober 2019. Karhutla masih berlangsung sejak awal pekan lalu setelah sebelumnya juga terbakar hampir dua pekan pada Juli tahun ini. TEMPO/Abdi Purmono

    Asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Arjuno yang membumbung terlihat dari Desa Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timur, Senin, 21 Oktober 2019. Karhutla masih berlangsung sejak awal pekan lalu setelah sebelumnya juga terbakar hampir dua pekan pada Juli tahun ini. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Malang  — Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Jawa Timur bertambah banyak dan tersebar di sejumlah gunung dalam wilayah kabupaten berbeda. 

    Hampir seluruh karhutla itu belum bisa dipadamkan. Setidaknya dibutuhkan dua sampai tiga helikopter. 

    Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Satrio Nurseno mengatakan sedikitnya ada tujuh gunung yang mengalami karhutla, yaitu Arjuna, Welirang, Kawi, Wilis, Semeru, Bromo. Yang terbaru karhutla terjadi di Gunung Ijen.

    “Sesuai data Minggu kemarin (20 Oktober 2019) ada 143 hotspot (titik api) di seluruh Jawa Timur dan itu butuh tambahan helikopter water bombing,” kata Satrio kepada Tempo di Pos Komando BPBD Kota Batu, pada Senin sore lalu, 21 Oktober 2019.

    Dengan seratusan titik api dan sebarannya yang luas saat ini hanya ada satu helikopter Mi-8/2 yang dikirim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Selasa, 15 Oktober 2019.

    Satrio menuturkan helikopter buatan Rusia itu hanya diterbangkan untuk memadamkan karhutla di Gunung Welirang dan Gunung Arjuno yang masuk kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo.

    Karhutla di dua gunung yang berdekatan itu sudah berlangsung selama hampir dua pekan. Pemadam sangat sulit dilakukan akibat cuaca ekstrem yang ditandai kemunculan angin kencang, awan, dan kabut.

    Sejak tiba di Malang, menurut Satrio, helikopter tersebut hanya dua kali diterbangkan untuk melakukan pembasahan. Selebihnya, helikopter semata wayang itu diparrkir di Pangkalan TNI Angkatan Udara Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang.

    “SPT (surat perintah terbang)-nya memang untuk memadamkan karhutla di Welirang dan Arjuna sehingga karhutla di gunung-gunung lain enggak bisa ter-cover. Memang harus ada pengajuan tambahan helikopter ke BNPB,” kata Satrio. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.