Mantan Napi Teroris: Jangan Merasa Aman Saat Pelantikan Presiden

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasir Abbas. TEMPO/Amston Probel

    Nasir Abbas. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan narapidana teroris, Nasir Abbas, meminta semua pihak tidak yakin aman saat pelantikan presiden dan wakil presiden 2019-2024 pada Ahad besok, 20 Oktober 2019. "Jangan merasa aman. Tidak aman karena kekacauan, kita melihat baik sikap anarkisme, terorisme, itu sudah ada lama," kata Nasir dalam diskusi Optimiskah Pelantikan Presiden Aman di Cikini, Jakarta, Sabtu, 19 Oktober 2019.

    Nasir mengatakan, adanya kepentingan paham berpotensi memunculkan ancaman. Salah satu contoh kepentingan paham yang dimiliki kelompok-kelompok teroris adalah pemerintah Indonesia merupakan musuh mereka. Pemerintah yang dimaksud adalah bisa siapa saja presidennya.

    Menurut Nasir, dengan adanya kepentingan paham, kelompok teroris akan merencanakan aksi yang tidak menunggu momen politik. Tetapi menggunakan momen untuk beraksi. Misalnya momen malam tahun baru, malam Natal, hari kebesaran lainnya, dan pilkada. "Itu momen-momen yang mereka manfaatkan untuk menunjukkan bahwa mereka eksis," kata dia.

    Jika banyak terduga teroris yang ditangkap menjelang pelantikan presiden, kata Nasir, masyarakat dan aparat tetap tidak boleh merasa aman dan harus lebih waspada. Sebab, paham-paham yang dianut terduga teroris sudah sampai pada tingkat serius, yaitu paham takfiri.

    Paham ini, menurut Nasir, jangan dilihat dari kelompok terorisnya. Pasalnya, ada orang yang memiliki paham takfiri tetapi tidak bergabung dengan kelompok, tapi ikut merasa terpanggil melakukan sesuatu. Selama ada yang mendukung pemerintah, mengibarkan Merah Putih, menyanyikan Indonesia Raya, dan setuju Pancasila, akan dianggap musuh alias kafir. “Itu keyakinan mereka."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Intoleransi di Bantul dan DIY Yogyakarta dalam 2014 hingga 2019

    Hasil liputan Tempo di DIY Yogyakarta, serangan terhadap keberagaman paling banyak terjadi di Bantul sepanjang 2014 sampai 2019.