Kenang Taufik Kiemas, Jimly Asshiddiqie: Sosok Pelintas Batas

Reporter:
Editor:

Tulus Wijanarko

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Taufik Kiemas pernah diberi gelar Doktor oleh rektor Universitas Trisakti, Thoby Muthis, karena telah melahirkan gagasan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia sehingga nilai tersebut dapat dipahami oleh para pejabat negara dalam berbangsa dan bernegara. TEMPO/Imam Sukamto

    Taufik Kiemas pernah diberi gelar Doktor oleh rektor Universitas Trisakti, Thoby Muthis, karena telah melahirkan gagasan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan Indonesia sehingga nilai tersebut dapat dipahami oleh para pejabat negara dalam berbangsa dan bernegara. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie mengenang (alm) Taufik Kiemas sebagai sosok pelintas batas ideologi. "Keluarganya dari lingkungan Masyumi tapi dia berhasil masuk ke jantungnya kaum nasionalis," ungkap dia, di Jakarta, Sabtu, 8/6.

    Baca juga: Mengenang Taufiq Kiemas dan Kiprahnya di Politik Indonesia

    Jimly dijadwalkan akan berbicara dalam acara peringatan meninggalnya Taufik Kiemas ke-6 yang digelar Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional  Indonesia (GMNI), hari ini.  Semasa hidupnya Taufik adlaah suami Megawati Soekarnoputeri dan pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)

    Jimly yang juga Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) itu menjelaskan generasi mas akini bisa belajar dari sosok Taufik Kiemas. Sebab, generasi sekarang kembali terframentasi dalam batas ideologi.

    "Pengelompokan politik di masa lalu harusnya sudah selesai oleh generasi kedua dan itu tercermin dan tersimbolisasikan dengan tokoh Taufik Kiemas," ucap dia.

    Ia berharap pada era digital bisa muncul banyak tokoh seperti Taufik Kiemas. Menurut dia, teknologi media sosial harusnya mengingatkan tentang indonesia sesungguhnya. "Jangan hanya mengukung diri dalam. grup WA masing-masing yang  mempunyai persepsi sendiri soal kebenaran."

    Jimly menyampaikan Indonesia butuh sosok yang memiliki prinsip inklusivitas. Sosok yang rajin berkeliling ke seluruh kelompok serta melintasi batas ideologi. "Bukan mengukung diri dalam kebenaran (yang) ekslusif."

     IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.