Gerindra Minta Demokrat Keluar Koalisi, PAN: Diklarifikasi Lagi

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (dari kanan) Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno, Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif, dan Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso dalam konferensi pers di Jalan Daksa I, Jakarta Selatan, Senin malam, 8 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    (dari kanan) Sekretaris Jenderal PAN Eddy Soeparno, Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif, dan Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso dalam konferensi pers di Jalan Daksa I, Jakarta Selatan, Senin malam, 8 Oktober 2018. TEMPO/Budiarti Utami Putri.

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Soeparno mengatakan kabar Partai Gerindra meminta Demokrat untuk keluar dari koalisi pendukung Prabowo - Sandiaga perlu dikaji kembali. "Saya kira itu mungkin isu yang dihembuskan itu mungkin perlu kita klarifikasi lagi," kata Eddy di rumah Ketua MPR Zulkifli Hasan di Jalan Widya Chandra IV, Jakarta, Jumat, 10 Mei 2019.

    Baca juga: Politikus Gerindra Minta Demokrat Keluar dari Koalisi Prabowo

    Eddy mengatakan bahwa ia baru mendengar kabar Partai Gerindra meminta Demokrat keluar dari koalisi. Namun, ia memastikan bahwa sejumlah pimpinan partai koalisi pendukung Prabowo - Sandiaga sore ini juga sedang berkumpul untuk berbuka puasa bersama di rumah Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani. "Di situ berkumpul teman-teman yang lain ada Bang Hinca, ada Mas Priyo Budi, ada Mustafa Kamal. Jadi kalau memang ada isu seperti itu saya kira isu itu perlu kita kaji kembali," ucapnya.

    Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Puoyono sebelumnya meminta Partai Demokrat keluar dari koalisi adil makmur. Alasannya, kata Arief, ketimbang elite Demokrat terus menunjukkan ketidakjelasan sikap di koalisi Prabowo - Sandiaga.

    "Sebaiknya keluar saja dari koalisi adil makmur. Jangan elit-nya dan ketua umum kayak serangga undur-undur. Mau mundur dari koalisi aja pake mencla-mencle segala. Monggo keluar saja," ujar Arief kepada wartawan pada Jumat, 10 Mei 2019.

    Toh, ujar Arief, Demokrat dinilai tidak ada pengaruhnya menghasilkan suara bagi Prabowo - Sandi. "Malah menurunkan suara lho," ujar Arief.

    Arief menyebut, jika keluar dari koalisi pun, Demokrat belum tentu mendapat posisi di koalisi Jokowi. "Saya yakin nasibnya Demokrat akan seperti tokoh Aswatama, setelàh Perang Bharatayudha, enggak diterima dimana-mana. Kami ajak koalisi cuma kasihan aja waktu itu," ujar dia.

    Baca juga: Politikus Demokrat Jelaskan Setan Gundul yang Dimaksud Andi Arief

    Sinyal-sinyal penjajakan koalisi Demokrat ke kubu Jokowi sebelumnya mulai disinyalir ketika Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu Jokowi di Istana Merdeka pada 2 Mei lalu. Wakil Ketua Umum Demokrat Syarief Hasan membeberkan, Agus menawarkan 14 program Demokrat saat bertemu Jokowi.

    Namun, ia memastikan sampai saat ini masih berada dalam Koalisi Adil Makmur sampai tahapan pemilu selesai, kendati sambil membangun komunikasi dengan koalisi pemerintahan. "Partai kami tetap berada di koalisi Prabowo-Sandi hingga pemilu rampung. Tapi kami tetap membuka komunikasi dengan pemerintah."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sidang MK Terkait Sengketa Pilpres 2019 Berlangsung Dua Pekan

    Sidang MK terkait sengketa Pilpres 2019 memasuki tahap akhir. Majelis hakim konstitusi akan membacakan putusannya pada 27 Juni. Ini kronologinya.