Selasa, 24 September 2019

Gatot Nurmantyo Sebut Anggaran TNI Kecil, Ryamizard: Sudahlah

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu memberikan pengarahan kepada prajurit Komando Strategis Angkatan Darat di GOR Kartika Divif I Kostrad, Cilodong, Depok, 22 Mei 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu memberikan pengarahan kepada prajurit Komando Strategis Angkatan Darat di GOR Kartika Divif I Kostrad, Cilodong, Depok, 22 Mei 2018. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta-Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu membantah pernyataan mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal (Purnawirawan) Gatot Nurmantyo soal anggaran TNI yang disebutnya kecil. Menurut Ryamizard alokasi Anggaran Pendapataan dan Belanja Negara untuk TNI kini jauh lebih besar ketimbang sebelumnya.

    "Sudahlah, Gatot. Anggaran kita sebelumnya di bawah Rp 50 triliun kan? Rp 60 triliun, Rp 50 triliun, sekarang sudah seratus lebih, Rp 108 triliun. Kurang apalagi?" kata dia di Jalan Abdul Muis, Jakarta, Senin, 15 April 2019.

    Baca: Purnawirawan TNI Nyatakan Sikap Politik, Ini Pesan Ryamizard

    Sebelumnya, Gatot mengkritisi anggaran TNI yang ia anggap terlalu kecil, bahkan kalah oleh Kepolisian Republik Indonesia. Mantan panglima TNI ini menyampaikan pandangannya itu saat menghadiri acara pidato kebangsaan calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, di Surabaya  Jumat pekan lalu.

    Ryamizard menilai anggaran untuk TNI saat ini sudah cukup. Jika menambah anggaran, kata dia, sama dengan mengambil uang rakyat. "Enggak mungkin. Kita ini tentara rakyat, rakyat dululah yang diutamakan," ujarnya.

    Simak: Ryamizard: Sekarang Sedikit-sedikit Pak Jokowi, Enak Saja

    Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan India. Menurut Ryamizard, anggaran militer di India jauh lebih besar tapi kesejahteraan rakyatnya kurang diperhatikan. "Rakyat banyak yang miskin. Kalau kepanasan mati, kedinginan mati. Itu jangan sampai terjadi di sini, dong," tuturnya.

    Atas dasar itu, kata dia, Indonesia tidak bisa serta merta mengesampingkan kepentingan rakyat demi penguatan militer. "(Pandangan) 'Pokoknya alutsista bagus, rakyat terserah', enggak bener itu, bukan tentara rakyat itu. Rakyat didahulukan," ucap Ryamizard.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Chip Smart SIM Catat Data Forensik dan Pelanggaran Lalu Lintas

    Berbeda dari kartu SIM sebelumnya, Smart SIM memiliki tampilan baru dan sejumlah fitur tambahan. Termasuk menjadi dompet elektronik.