Jokowi Menilai Angka Stunting di Indonesia Masih Tinggi

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo atau Jokowi menggendong Rafi Ahmad Fauzi, anak berkebutuhan khusus yang mengidolakannya. Pertemuan Jokowi dan Rafi terjadi di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jawa Barat, 8 Februari 2019. Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

    Presiden Joko Widodo atau Jokowi menggendong Rafi Ahmad Fauzi, anak berkebutuhan khusus yang mengidolakannya. Pertemuan Jokowi dan Rafi terjadi di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jawa Barat, 8 Februari 2019. Foto: Laily Rachev - Biro Pers Sekretariat Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta para kepala dinas provinsi, kabupaten, kota untuk mengurangi angka stunting atau kekerdilan pada balita Indonesia. "Di kabupaten, kota, provinsi masih ada yang namanya stunting. Kejar ini, selesaikan ini," kata Jokowi saat membuka rapat kerja kesehatan nasional di OCE BSD, Tangerang, Selasa, 12 Februari 2019.

    Baca: Jakarta Belum Bebas Stunting, Ini Kata Anies Baswedan

    Jokowi mengatakan, 37 persen atau 9 juta balita Indonesia mengalami stunting pada 2014. Angkanya kini sudah turun menjadi 30 persen. Namun Jokowi tak mau berpuas diri. Menurut dia, angka stunting pada balita masih cukup tinggi. Ia pun menegaskan angka tersebut harus terus dikurangi bahkan dibuat sampai tak ada lagi balita stunting.

    Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menjelaskan pentingnya menurunkan angka stunting, salah satunya agar sumber daya manusia Indonesia bisa bersaing dengan SDM negara lain. Persoalan stunting bukan hanya sekedar berbicara gangguan pertumbuhan tinggi badan anak, namun juga dapat menyebabkan hambatan kecerdasan anak serta menimbulkan kerentanan terhadap penyakit menular bahkan tidak menular, serta penurunan produktivitas pada usia dewasa.

    Hal mendasar lainnya yang perlu dibenahi adalah tingkat kematian ibu. Meski angkanya sudah menurun, Jokowi meminta para kepala dinas kesehatan tetap memberikan perhatian terhadap kasus ini.

    "Jangan sampai negara lain sudah berbicara artificial intelligence, sudah berbicara virtual reality, internet, sudah berbicara big data, sudah berbicara bit coin, kita masih urusan stunting saja belum selesai, urusan kematian ibu belum rampung," katanya.

    Baca: Masalah Stunting Akan Diteliti Melalui Uji Mikro Nutrisi

    Jokowi melanjutkan, "Bagaimana negara ini mau bersaing, bagaimana negara ini mau berkompetisi? Basic-basic seperti ini lah yang harus kita selesaikan terlebih dahulu."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.