Alasan TGB Masuk Golkar: Partai Moderat, Tidak Kanan, Tidak Kiri

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi (kanan) berbincang dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi saat tiba di Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, NTB, Ahad, 2 September 2018. Bantuan yang diberikan berupa tabungan Rp 50 juta untuk perbaikan rumah yang rusak berat. ANTARA/Ahmad Subaidi.

    Presiden Jokowi (kanan) berbincang dengan Gubernur Nusa Tenggara Barat Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi saat tiba di Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, NTB, Ahad, 2 September 2018. Bantuan yang diberikan berupa tabungan Rp 50 juta untuk perbaikan rumah yang rusak berat. ANTARA/Ahmad Subaidi.

    TEMPO.CO, Jakarta - Partai Tengah menjadi alasan Tuan Guru Bajang Zainul Majdi atau TGB memilih bergabung ke Partai Golkar. Partai tengah yang dimaksud adalah partai moderat yang berada di tengah secara ideologi. Dengan kata lain, bukan partai agama di 'kanan', ataupun partai sosialis-komunis di kutub ekstrem 'kiri'.

    Baca: Gabung Golkar, TGB Dapat Dua Jabatan Penting

    "Partai Golkar merupakan partai tengah yang kokoh padanya nilai meritokrasi. Saya sering mengatakan, moderasi atau sikap pertengahan itu penting sekali dalam membangun bangsa ini," kata TGB menjelaskan alasannya bergabung, usai acara silaturahmi akhir tahun Keluarga Besar Golkar di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan pada Kamis, 20 Desember 2018.

    Menurut mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat ini, sikap moderat dengan pola berpikir mencari solusi, tidak konfrontatif dan tidak diametral amat penting untuk masa depan Indonesia. "Jadi saya berterima kasih sudah diterima. Sebagai Muslim, saya maknakan ini sebagai dakwah dengan niat memberi kontribusi untuk Indonesia," ujar dia.

    TGB mengakui bahwa ada proses komunikasi yang sudah cukup lama sebelum akhirnya memutuskan bergabung ke Partai Golkar. Ketua Umum Partai Golkar mengatakan, tawaran bergabung ke partai beringin sudah disampaikan setelah masa jabatan TGB sebagai gubernur berakhir, 17 September 2018.

    "Kami berbicara dan ada chemistry. Sehingga, tinggal mencari waktu pengumuman yang tepat, kebetulan menjelang akhir tahun ada acara silaturahmi dengan para senior Golkar ini," ujar Airlangga.

    Saat berkunjung ke kantor Tempo sebelum melepas jabatan gubernur, TGB tak menampik dirinya sudah ditawari pindah partai oleh Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Tawaran itu disampaikan menyusul kemungkinan TGB dijatuhi sanksi oleh Partai Demokrat karena mendukung Presiden Joko Widodo di pemilihan presiden 2019.

    Simak juga: Bergabungnya TGB tak Sesuai Anggaran Dasar Golkar

    Kendati demikian, saat itu TGB menganggap tawaran tersebut disampaikan Airlangga secara spontan saja. Sebab, TGB berujar, hubungannya dengan Airlangga selama ini ibarat abang dan adik. "Beliau kan lebih tua dari saya, saya panggilnya bang. Mungkin beliau agak kasihan juga melihat di media, gara-gara dukungan ini adiknya mau dikasih sanksi itu," kata TGB di kantor Tempo, Palmerah, Jakarta, Kamis, 12 Juli 2018.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.