La Nyalla, Obor Rakyat dan Isu Jokowi PKI

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • La Nyalla Mattalitti. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    La Nyalla Mattalitti. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Isu Partai Komunis Indonesia (PKI) agaknya masih melekat pada Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Isu tersebut kemudian cukup mengganggu Jokowi, sehingga berkali-kali dia menepis isu tersebut dalam berbagai forum-forum publik. Bahkan, Jokowi sempat melontarkan kata-kata 'tabok' penyebar isu hoax Jokowi PKI.

    Baca: La Nyalla Blak-blakan Mengakui Sebarkan Isu Jokowi PKI di 2014

    Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Ace Hasan Shadzily menjelaskan, hal tersebut dilakukan Jokowi karena masih banyak masyarakat yang percaya bahwa Jokowi simpatisan PKI, terutama di Jawa Barat. "Data internal kami, 6 persen masyarakat masih percaya Pak Jokowi itu PKI. Itu yang harus dibantah Pak Jokowi di berbagai forum dan pertemuan," ujar Ace Hasan saat ditemui Tempo di bilangan Menteng, Jakarta pada Senin, 12 November 2018.

    Berkali-kali, Jokowi membantah bahwa dirinya sama sekali tidak ada sangkut-paut dengan PKI. "Saya ini lahir tahun 1961. PKI itu ada tahun 1965. Saya berusia empat tahun ketika itu. Masak ada anggota PKI balita? Ini kan nggak bener," kata Jokowi dalam berbagai forum.

    Bermula dari Obor Rakyat

    Isu Jokowi PKI telah berembus sejak Jokowi maju dalam pemilihan presiden 2014. Isu itu juga mencuat lewat tabloid Obor Rakyat yang terbit pertama kali pada Mei 2014 dengan judul 'Capres Boneka' dengan karikatur Jokowi sedang mencium tangan Megawati Soekarnoputri. Obor Rakyat menyebut Jokowi sebagai simpatisan PKI, keturunan Tionghoa dan kaki tangan asing. Dalam waktu singkat tabloid ini menghebohkan masyarakat pada masa itu.

    Baca: La Nyalla Akui Sebar Obor Rakyat, Gerindra: Harusnya Dia Dibekuk

    Obor Rakyat Bukan Produk Pers

    Pada 4 Juni 2014, tim pemenangan capres dan cawapres Jokowi-JK melaporkan tabloid itu ke Badan Pengawas Pemilu. Bawaslu menjadikan tabloid itu sebagai bukti, dan melimpahkannya ke Bareskrim Mabes Polri. Dalam prosesnya, Tim Tabur atau Tangkap Buron Kejaksaan berhasil menangkap pemimpin redaksi dan penulis tabloid Obor Rakyat Setiyardi Budiono dan Darmawan Sepriyosa.

    La Nyalla Mengakui 'Dosa'


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban, Tersangka, Barang Bukti, dan Lokasi Kerusuhan 22 Mei 2019

    Kerusuhan 22 Mei 2019 di Ibu Kota bermula dari unjuk rasa penolakan hasil pilpres 2019 di depan gedung Bawaslu, Jakarta, sejak sehari sebelumnya.