Senin, 10 Desember 2018

Kisah Fatimatuzzarah, Dokter Muda Relawan Gempa Palu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas relawan dokter muda, dokter kebun dari PT Mamuang, Pasangkayu, Sulawesi Tengah, Fatimatuzzarah, 27 tahun, di Posko Garuda, Palu, Sulawesi Tengah. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    Aktivitas relawan dokter muda, dokter kebun dari PT Mamuang, Pasangkayu, Sulawesi Tengah, Fatimatuzzarah, 27 tahun, di Posko Garuda, Palu, Sulawesi Tengah. TEMPO/Francisca Christy Rosana

    TEMPO.CO, Jakarta - Fatimatuzzarah tak pernah menyangka masa-masa awalnya bekerja di Sulawesi Tengah, bakal dihadapkan pada bencana besar gempa dan tsunami Palu.

    Baca juga:  Pencarian Korban Gempa Palu Diperpanjang Sampai Hari Ini

    Dokter berusia 27 tahun itu mendapat penugasan di PT Mamuang, Pasangkayu, Sulawesi Tengah dan baru menjejakkan kakinya lima hari di Palu saat gempa mengguncang dan tsunami menghumbalang pesisir kota itu.

    "SK saya untuk berangkat ke Palu baru keluar September lalu," kata Fatimah kepada Tempo, Rabu sore, 10 Oktober 2018. Ia mulai resmi bekerja di klinik perusahaan itu pada 24 September sebagai dokter di wilayah Pasangkayu. Perempuan asal Kalimantan Selatan ini ditunjuk menangani kesehatan para pegawai perkebunan.

    Saat gempa terjadi, ia baru masa orientasi mengenal Palu. Dia pun tak memiliki gambaran tentang kewilayahan Palu. Bahkan, tak terpikir bahwa gempa bakal diikuti tsunami.

    Bencana gempa menjadi memoar penting untuk menandai masa-masa awalnya mengemban bakti di Pulau Celebes. Musababnya, Fatimah, panggilan akrab dokter muda itu, memutuskan bergabung dengan relawan yang dikoordinasi grup kantornya untuk turun ke daerah terdampak bencana yang lebih parah.

    Ia bergabung dengan relawan di Posko Garuda, Jalan Garuda, Palu, guna menangani pengungsi yang butuh bantuan medis. "Masa-masa awal berat sekali," katanya. Listrik saat itu belum lancar menyala. Sinyal telepon seluler pun hilang-timbul. Ia tak bisa mengabari suaminya yang tinggal terpisah di Kalimantan Selatan. Padahal, Fatimah adalah pengantin baru.

    Baca juga: JK Akan Tinjau Penanganan Bencana Gempa Palu bersama Sekjen PBB

    Tak cuma itu, pengungsi yang traumatik membikin Fatimah harus sabar. Ia pun mengenang ada seorang pengungsi gempa dan tsunami Palu datang menceritakan anaknya yang tergulung tsunami. Sedangkan istri sang pasien itu mengalami guncangan kejiwaan. "Saat itu saya berikan pengertian kepada pengungsi untuk mengajak istrinya ngobrol," kata dia.

    Meski sempat takut, ia merasa menjadi relawan adalah panggilan jiwa. Saat Palu berduka, ia tahu tak lama lagi wilayah ini akan bangkit bila ada kesadaran manusia untuk saling membantu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Indonesia Berupaya Mencegah Sampah Plastik Hanyut ke Laut

    Pada 2010, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik nomor dua di dunia. Ada 1,29 juta ton sampah plastik hanyut ke laut.