Kemendes PDTT dan Pos Indonesia Tingkatkan Logistik Hasil Produksi Daerah Tertinggal

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kemendes PDTT dan Pos Indonesia Tingkatkan Logistik Hasil Produksi Daerah Tertinggal

    Kemendes PDTT dan Pos Indonesia Tingkatkan Logistik Hasil Produksi Daerah Tertinggal

    INFO NASIONAL - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia untuk meningkatkan sistem logistik hasil produksi di daerah tertinggal. Hal itu dibutuhkan agar persoalan minimnya aksesibilitas dan transportasi tidak menghambat distribusi hasil produksi daerah tertinggal kepada pusat pertumbuhan.

    Dalam skema kerja sama yang terbangun, PT Pos Indonesia, diharapkan dapat membantu menyediakan box untuk mengangkut hasil produksi di daerah tertinggal, misalnya hasil panen petani mangga. Untuk memperlancar proses distribusi, petani akan diajarkan cara untuk menyortir buah-buahan dengan kualitas terbaik. "Kemudian, petani tinggal memasukkan mangga ke dalam box yang sudah disediakan,” kata Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Kemendes PDTT Samsul Widodo, akhir pekan ini.

    Samsul menambahkan, PT Pos Indonesia nantinya akan mengangkut hasil produksi tersebut dan mengirimkankan ke konsumen di seluruh Indonesia. Tidak hanya buah-buahan, skema distribusi produk daerah tertinggal ini juga akan diterapkan di komoditas lain, seperti sayur mayur, ikan segar, bahkan ikan hias, mengingat potensi produk unggulan di daerah tertinggal sangat beragam.

    “Pilot project kerja sama dengan PT Pos Indonesia ada di empat titik, yakni di Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Berau dan Sorong. Khusus Kabupaten Berau dan Sorong, komoditas yang dipilih adalah ikan segar mengingat besarnya potensi ikan segar yang dimiliki kedua kabupaten tersebut,” ujarnya.

    Selain aksesibilitas dan transportasi, Samsul menilai permasalahan lain yang berkaitan dengan produksi komoditas unggulan, baik di daerah tertinggal maupun hampir terjadi di seluruh daerah di Indonesia, adalah soal ketersediaan lahan perkebunan yang masih minim. Rata-rata, daerah tidak memiliki banyak perkebunan mangga, alpukat, pisang, manggis, dan lain-lain. Namun pohon buah-buahan tersebut dapat tumbuh subur di pekarangan-pekarangan rumah penduduk dengan jumlah yang tidak sedikit.

    “Artinya, ke depan akan dikembangkan teknologi untuk melakukan pendataan pohon-pohon tersebut, sehingga hasil panennya dapat dikonsolidasi bahkan dapat diprediksi waktu panen. Hal ini akan memudahkan konsumen untuk mendapat kepastian produksi,” ucap Samsul. (*)

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Erupsi Merapi Dibanding Letusan Raksasa Sejak 7200 Sebelum Masehi

    Merapi pernah meletus dengan kekuatan 4 Volcanic Explosivity Index, pada 26 Oktober 2010. Tapi ada sejumlah gunung lain yang memiliki VEI lebih kuat.