Foto Bareng Bos Asia Sentinel, Moeldoko: Demokrat Jangan Baper

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Moeldoko (kiri), bersama Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi (kanan) dan Sekjen Handoko (tengah) mengangkat tangan ketika memberikan pengarahan dalam Rakernas IV Relawan Projo di Jakarta, Sabtu, 15 September 2018. ANTARA

    Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Moeldoko (kiri), bersama Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi (kanan) dan Sekjen Handoko (tengah) mengangkat tangan ketika memberikan pengarahan dalam Rakernas IV Relawan Projo di Jakarta, Sabtu, 15 September 2018. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Presiden Moeldoko meminta Partai Demokrat tidak bawa perasaan atau baper dan menduga-duga ihwal foto dirinya dengan co-founder Asia Sentinel, Lin Neumann. "Jangan buru-buru baper gitu menduga. Dilihat dulu latar belakangnya seperti apa," kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, Selasa, 18 September 2018.

    Baca juga: Soal Asia Sentinel, Johan: Istana Tak Ada Kepentingan dengan SBY

    Moeldoko mengaku tidak mengenal sosok Neumann. Ia menceritakan, pada Mei lalu, Moeldoko diagendakan melakukan diskusi dengan American Chamber of Commerce (AmCham), semacam Kamar Dagang Industri (Kadin) Amerika. Ia mengatakan Neumann merupakan Ketua AmCham.

    Dalam acara itu, Moeldoko menjelaskan perkembangan situasi politik dan keamanan di Indonesia. "Saya pastikan kepada mereka, para pengusaha, investor Amerika, untuk tidak takut datang ke Indonesia. Karena saya bisa melihat situasi itu dengan jernih tanpa ada kepentingan apa pun," ujarnya.

    Menurut Moeldoko, diskusi tersebut hanya membahas masukan tentang investasi untuk dilaporkan kepada Presiden Joko Widodo. Ia pun menegaskan pertemuan itu tidak berkaitan dengan tahun politik. Apalagi membahas skandal Century yang dikaitkan dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY.

    "Itu hanya kepentingan Kepala Staf Kepresidenan untuk bisa memberi penjelasan kepada investor, para pengusaha-pengusaha luar yang sudah menanamkan uangnya di dalam negeri, dan kita ingin menarik investasi lain yang ingin tahu tentang situasi negara," kata Moeldoko.

    Mantan Panglima TNI itu juga mengaku tidak mengetahui Lin Neumann merupakan co-founder Asia Sentinel. Bahkan, setelah berdiskusi dengan AmCham, Moeldoko mengatakan tidak sempat berkomunikasi secara langsung dengan Neumann.

    "Saya enggak sempet berkomunikasi dengan people-to-people-nya, karena waktunya terbatas, ya. Habis saya kasih ceramah, makan saya enggak sampai selesai. Saya tinggal pulang karena ada acara berikutnya. Background-nya seperti itu," katanya.

    Tudingan adanya keterkaitan pihak Istana dengan pemberitaan Asia Sentinel tentang SBY bermula dari cuitan Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Rachland Nashidik di Twitter pada hari ini. Rachland mengunggah sebuah foto yang menampilkan wajah Moeldoko dan sejumlah orang, yang salah satunya co-founder Asia Sentinel.

    Baca juga: Demokrat Gugat Asia Sentinel karena Berita Soal SBY dan Century

    "Lin Neumann -- berkacamata, ketiga di belakang -- adalah Co-Founder Asia Sentinel, Blog berbasis di Hongkong yang menyebar kabar bohong tentang SBY dan Partai Demokrat. Di foto ini Tuan Neumann berfoto dengan @General Moeldoko. Apakah Istana terlibat dalam fitnah pada SBY?" cuit Rachland dalam keterangan foto tersebut.

    Sebelumnya, Asia Sentinel menulis berita berjudul “Indonesia’s Vast Criminal Conspiracy” yang diterbitkan pada 11 September 2018. Artikel itu mengulas hasil investigasi setebal 488 halaman terkait dengan kasus bailout Bank Century. Hasil investigasi itu termaktub dalam berkas gugatan yang diajukan Weston Capital International ke Mahkamah Agung Mauritania bulan lalu.

    Dalam beritanya, John Berthelsen selaku penulis artikel mengatakan pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), presiden ke-6 RI dan Ketua Umum Partai Demokrat, telah melakukan konspirasi kriminal terbesar dengan mencuri dana US$ 12 miliar dari pembayar pajak dan mencucinya melalui bank-bank internasional. Kasus itu disebut melibatkan 30 pejabat dan sejumlah lembaga keuangan internasional.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.