Terduga Teroris yang Ditangkap di Bandung Terkait Jaringan JAD

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi menjaga area rekonstruksi oleh terduga tindak pidana terorisme di  kawasan Mekarsari, Kecamatan Kiaracondong, Bandung, 26 Oktober 2017. Reka ulang adegan ini juga diadakan di kawasan Antapani, Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    Polisi menjaga area rekonstruksi oleh terduga tindak pidana terorisme di kawasan Mekarsari, Kecamatan Kiaracondong, Bandung, 26 Oktober 2017. Reka ulang adegan ini juga diadakan di kawasan Antapani, Bandung. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bandung - Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat Inspektur Jenderal Agung Budi Maryoto menyatakan dua orang terduga teroris yang ditangkap tim Detasemen Khusus 88 Antiteror merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

    "Dua orang itu termasuk jaringan JAD," kata Agung setelah memimpin apel gelar pasukan di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Jumat, 3 Agustus 2018.

    Baca: Putusan Pembubaran JAD Sesuai Tuntutan, Kenapa Jaksa Pikir-Pikir?

    Dua terduga teroris ditangkap pada Rabu, 1 Agustus 2018, oleh Densus 88 Antiteror di kawasan Gedebage, Kota Bandung. Menurut Agung, saat ini keduanya tengah dalam penyidikan Densus 88.

    Baca: Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris di Banten

    Agung belum bisa memastikan apakah para terduga teroris tersebut memiliki keterkaitan dengan terpidana mati Aman Abdurrahman. "Itu dari teman-teman Densus yang melakukan pendalaman pemeriksaan. Kami saat ini membantu menangkap saja," katanya.

    Namun penangkapan itu, kata dia, berkaitan dengan upaya pengamanan menjelang penyelenggaraan Asian Games Jakarta-Palembang. "Potensi (ancaman teror) ada, makanya kami lakukan lebih awal penangkapan," tuturnya.

    Baca: Polri Masih Proses Ratusan Terduga Teroris yang Sudah Ditangkap


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.