Jumat, 14 Desember 2018

Rudiantara: Pemblokiran Konten Radikalisme Menurun Selama Ramadan

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menkominfo Rudiantara menyampaikan keterangan terkait registrasi dan pengamanan data konsumen telko pada rapat kerja dengan Komisi I di Jakarta, 19 Maret 2018. Menkominfo menanggapi adanya isu kebocoran data pelanggan dalam proses registrasi kartu SIM prabayar dengan NIK dan KK. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    Menkominfo Rudiantara menyampaikan keterangan terkait registrasi dan pengamanan data konsumen telko pada rapat kerja dengan Komisi I di Jakarta, 19 Maret 2018. Menkominfo menanggapi adanya isu kebocoran data pelanggan dalam proses registrasi kartu SIM prabayar dengan NIK dan KK. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan konten radikalisme di media sosial menurun selama bulan Ramadan. Jika sejak Mei 2018, Kominfo membekukan 500 akun setiap harinya, kata Rudiantara, jumlah itu menurun dengan pembekuan sebanyak 50 akun per hari.

    Ia juga memperhitungkan sebanyak 48 persen konten radikalisme berasal dari media sosial Facebook dan Instagram. "Ada 4 ribu akun yang diblok dari FB dan Instagram," ujar dia di rumahnya, pada Jumat, 15 Juni 2018.

    Baca: Kominfo Minta Masyarakat Laporkan Konten Radikalisme

    Hingga kini, sudah ada 20 ribu akun yang berkonten radikalisme, ektrimisme, dan terorisme. Rudiantara mengatakan akan terus menyisir akun-akun tersebut. "Kami tingkatkan frekuensi, sekarang 2 jam sekali (melakukan penyisiran)," tutur Rudiantara.

    Walaupun terjadi penurunan yang signifikan, Rudiantara menuturkan pihaknya tetap melakukan penyisiran akun-akun radikalisme dengan ketat. Kementerian Komunikasi dan Informasi, kata dia, juga akan bekerjasama dengan Kepolisian untuk memantau akun-akun tersebut.

    Baca: Rudiantara Angkat Tangan Cegah Konten Radikalisme di Dunia Maya

    Kerjasama dengan polisi yang dimaksud Rudiantara ialah dalam penelusuran akun-akun yang menyebar konten radikalisme. "Kalau polisi yang menangkap di dunia, kami yang takedown di dunia maya," tutur dia.

    Rudiantara berpesan bahwa masyarakat perlu menghindari konten radikalisme jika tidak ingin akun media sosialnya dibekukan. Maka, kata dia menyankan, konten yang diunggah harus yang berisi hal-hal positif. "Jejak digital itu bukan seumur hidup tapi seumur-umur tidak pernah akan hilang," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sayap OPM Kelompok Egianus Kogoya Meneror Pekerjaan Trans Papua

    Salah satu sayap OPM yang dipimpin oleh Egianus Kogoya menyerang proyek Trans Papua yang menjadi program unggulan Jokowi.