Rabu, 20 Juni 2018

Perjuangan Mengubah Kebiasaan yang Buruk bagi Lingkungan

Oleh:
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelopor Penangkapan Ikan Sidat Liar (PPILAR), penerima penghargaan SATU Indonesia Award 2017 kategori kelompok. (Foto: Dok. Astra)

    Pelopor Penangkapan Ikan Sidat Liar (PPILAR), penerima penghargaan SATU Indonesia Award 2017 kategori kelompok. (Foto: Dok. Astra)

    Randi Putra Anom, Akri Erfianda, dan Rego Damantara adalah 3 orang pemuda yang berhasil menerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2017 dalam kategori Kelompok bidang Lingkungan. Mereka terpilih karena kerja keras mereka sebagai Penyuluh Penangkapan Ikan Sidat Ramah Lingkungan. Untuk melakukan berbagai kegiatannya, mereka mengelola sebuah kelompok yang disebut Pelopor Penangkapan Ikan Sidat Liar (PPILAR).

    PPILAR sendiri beranggotakan 20 orang nelayan yang tersebar di sejumlah wilayah Bengkulu. Mereka banyak melakukan penyuluhan-penyuluhan dan terus berupaya menyosialisasikan penangkapan ikan Sidat dengan menggunakan alat tradisional bubu. Selain aman bagi lingkungan, alat tradisional ini pun memungkinkan untuk menangkap ikan dalam keadaan hidup dan bernilai jual lebih tinggi.

    Salah satu tantangan terbesar yang harus PPILAR hadapi adalah kebiasaan para nelayan menggunakan setrum untuk menangkap ikan Sidat. Para nelayan sudah terlanjur nyaman dan merasa alat setrum dapat menghasilkan tangkapan ikan dalam waktu relatif cepat. Sebaliknya, alat bubu yang PPILAR rekomendasikan pun memiliki kelemahan karena waktu penangkapan yang lebih lama.

    Lebih jauh dari sekedar menggunakan alat tradisonal bubu untuk pelestarian lingkungan, solusi yang ditawarkan PPILAR sebenarnya untuk kebaikan masyarakat. Mereka ingin meningkatkan nilai ekonomis ikan Sidat yang memang jauh lebih tinggi bila dijual dalam keadaan hidup. Apabila ikan Sidat yang tertangkap masih kecil, para nelayan pun masih bisa membesarkan ikan tersebut sebelum akhirnya dijual. Sebagai perbandingan, harga ikan Sidat yang dijual dalam keadaan mati hanya mencapai harga Rp 20.000 per kilogramnya. Sedangkan, ikan Sidat yang dijual dalam keadaan masih hidup dapat mencapai harga sekitar Rp 45.000 per kilogramnya.

    Kini, PPILAR masih terus berupaya menyosialisasikan penggunaan bubu kepada para nelayan di Bengkulu. Mereka juga mengupayakan agar populasi ikan Sidat dapat terus bertahan di perairan Bengkulu dengan melepaskan sebagian ikan Sidat yang sudah dibesarkan ke muara sungai. PPILAR ingin semua nelayan di Bengkulu pada akhirnya semakin peduli terhadap keberlangsungan hidup ikan Sidat dan melakukan penangkapan ikan yang ramah lingkungan.

    Cerita perjuangan PPILAR dapat Anda ikuti secara lengkap di website www.satu-indonesia.com .

    BAYU SATITO / TIM INFO TEMPO


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Libur Lebaran dengan Helikopter, Siapa Takut?

    Helikopter menjadi sarana transportasi yang efektif menghindari macet. Orang-orang berduit memilih menggunakannya, termasuk di libur Lebaran ini.