Aliansi Bela Garuda Gelar Salawat Kebangsaan di Kota Yogyakarta

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Puluhan anak-anak dan warga membawa poster bergambar Pancasila dan Bendera Merah Putih bersiap mengikuti kirab memperingati hari lahirnya Pancasila di Desa Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, 1 Juni 2017. TEMPO/Pius Erlangga

    Puluhan anak-anak dan warga membawa poster bergambar Pancasila dan Bendera Merah Putih bersiap mengikuti kirab memperingati hari lahirnya Pancasila di Desa Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta, 1 Juni 2017. TEMPO/Pius Erlangga

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Sejumlah warga yang menamakan diri Aliansi Bela Garuda (ABG) menggelar Salawat Kebangsaan di Tugu Paal Putih, Kota Yogyakarta, Ahad, 3 Juni 2018. Kegiatan itu untuk menyikapi keadaan di masyarakat, yang rawan membuat umat dan bangsa terpecah belah.

    ABG melihat bibit perpecahan mulai muncul dengan maraknya aksi intoleran, termasuk anarkisme dan terorisme. Ujaran kebencian juga sudah menjadi tren untuk meraih tujuan dengan menjelekkan, bahkan memfitnah lawan politik.

    Baca: Pegiat Seni Gelar Panorama Mural Pancasila

    “Maraknya aksi organisasi massa di Yogyakarta belakangan ini, ada yang mengarah pada penyebaran ideologi baru, ditandai dengan penggunaan ujaran kebencian dan permusuhan. Ini meresahkan warga,” kata Ispurwanto, Sekretaris ABG.

    Karena itu, sekaligus memperingati hari kelahiran Pancasila, mereka menggelar selawatan di Tugu pada Ahad sore hingga waktu berbuka puasa. Tujuannya, menjaga kebinekaan yang merupakan ciri khas bangsa, khususnya Yogyakarta, yang penduduknya berasal dari berbagai daerah dan suku di Indonesia.

    “Pancasila Adalah Kita, Pesan Damai dari Yogyakarta. Itu tema kami. Yogyakarta merupakan Indonesia mini yang merepresentasikan keragaman suku, agama, dan golongan," ujar Ispurwanto.

    Simak: Tanggapi Refly Harun, Budiman Sudjatmiko: Pancasila Lahir 1 Juni

    ABG mengajak warga yang peduli nasib dan masa depan bangsa ramai-ramai menghadiri kegiatan Salawat Kebangsaan. Menurut Ispurwanto, Pancasila dan Ramadan menjadi jembatan untuk membangun kembali ikatan persaudaraan kebangsaan atau ukhuwah wathaniyah. “Kami menolak adanya ideologi yang bertentangan dengan Pancasila,” ucapnya.

    Pada saat bersamaan, Forum Aksi Bela Bangsa menggelar aksi di depan gedung PDHI di Alun-alun Utara Kota Yogyakarta. Rencananya, aksi itu dilakukan di Titik Nol Kilometer pada 1 Juni lalu. Namun, karena ada kerawanan konflik, jadwal aksi diundurkan.

    Lihat: Rayakan Hari Lahir Pancasila, Slanker Mengaji Pancasila di UGM

    Menurut salah satu koordinator aksi Bela Bangsa, Dwi Kuswantoro, aksi ini menegaskan pentingnya cinta Tanah Air, menjaga Pancasila yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa agar tetap menjadi kekuatan negara dalam melahirkan kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran bangsa Indonesia

    “Mengedepankan kebersamaan umat dalam spirit berjamaah untuk ikut berperan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai amanah kemerdekaan yang lahir atas berkat rahmat dari Allah,” tuturnya.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.