Rayakan Hari Lahir Pancasila, Slanker Mengaji Pancasila di UGM

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ridho gitaris Slank beraksi menghibur penggemarnya Slankers pada konser

    Ridho gitaris Slank beraksi menghibur penggemarnya Slankers pada konser "30 Tahun SLANK, Nggak Ada Matinya" di Gelora Bung Karno, Jakarta, (13/12). TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Jakarta - Ribuan Slanker, penggemar berat grup band Slank bergembira pada peringatan Hari Lahir Pancasila di lapangan Pancasila, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Jumat, 1 Juni 2018. Kaka, vokalis Slank mengajak mereka menyanyikan lagu Garuda Pancasila. “Ada teror kita tak takut akan teror. Kita tetap berhasil bangkit,” ujar Kaka di sela menyanyi di lapangan Pancasila UGM, Jumat, 1 Juni 2018.

    Pentas grup musik ini didatangi lebih dari 10 ribu orang. Dengan antusias mereka menyanyikan lagu-lagu Slank hingga waktu berbuka puasa. Di tengah pentas lagu-lagu Slank, orasi Kepancasilaan dan kebangsaan disampaikan oleh Rektor UGM Panut Mulyono, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Buya Syafii Maarif, dan lain-lain.

    Baca: BPIP: Hari Lahir Pancasila Jangan Cuma ...

    Konser itu juga untuk memperingati Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni yang menjadi dasar pemersatu bangsa Indonesia. Rektor UGM Panut Mulyono menyatakan pesan panjang tetapi disingkat. “Kita adalah bangsa besar yang memiliki akar historis kuat, Pancasila adalah rumah kita. Mari kita bersama-sama dalami, kita hayati, jaga rawat dan perkuat sendi kehidupan dengan semangat gotong royong,” kata Panut disambut teriakan yel-yel Slanker.

    Pancasila, kata Panut, merupakan ideologi yang paling tepat untuk NKRI yang plural. Pancasila menjadi dasar pemersatu bangsa.  “Mari kita jaga Pancasila untuk menjadi wadah kebinekaan Indonesia yang mempersatukan kita demi tegaknya NKRI dan kejayaan Bangsa Indonesia.”

    Buya Syafii, mantan ketua umum Muhammadiyah, menyoroti pasal 33 UUD 1945. Saat ini belum dilaksanakan dengan benar. Ekonomi Indonesia saat ini masih menganut ekonomi liberal dan kapitalisme. “Bumi dan air dan seluruh kekayaan alam di bawahnya dikuasai negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat belum tercapai.”  Pemerintah, kata Buya, harus meluruskan kiblat. Yaitu kiblat ekonomi yang pro rakyat. 

    Baca: Keputusan Kenapa Hari Lahir Pancasila ...

    Sultan saat berorasi mengatakan sebagai rumah, Pancasila bagai tempat berteduh. Ia menyadur lirik lagu Franky Sahilatua “untuk cinta sesama”. Rumah berbagi gagasan, membangun asa, guna merajut masa depan. “Tapi kini, rumah kita lagi diterjang petaka dari manca, paham yang tak kita kenal. Terus digoyang, agar lima tiang utamanya roboh menimpa kita semua,” kata dia.

    Ia mengatakan, harmoni kehidupan, bak warna-warninya bunga di tamansari dunia, diinjak-semena demi selfie bagi egoisme diri.  “Sungguh, awal sebuah kesedihan menuju perpecahan! Ia menggores jiwa, meretakkan sayap-sayap Garuda Pancasila,” kata Sultan pada peringatan Hari Lahir Pancasila.  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.