Tanggapi Refly Harun, Budiman Sudjatmiko: Pancasila Lahir 1 Juni

Reporter:
Editor:

Ninis Chairunnisa

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Budiman Sujatmiko. TEMPO/Adri Irianto

    Budiman Sujatmiko. TEMPO/Adri Irianto

    TEMPO.CO, Jakarta - Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko menanggapi pernyataan pakar hukum tata negara Refly Harun ihwal Hari Lahir Pancasila.

    Menurut Budiman, Pancasila sebagai dasar negara memang disepakati tanggal 18 Agustus 1945 dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), namun Pancasila sebagai ideologi diumumkan Presiden Soekarno atau Bung Karno pada 1 Juni 1945.

    "Pancasila sebagai way of life, sebagai ideologi, itu diumumkan Bung Karno dalam pidatonya di depan sidang dewan Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai," kata Budiman ketika dihubungi Tempo pada Ahad, 3 Juni 2018.

    Baca: Refly Harun: Hari Lahir Pancasila 18 Agustus 1945 Bukan 1 Juni

    Refly sebelumnya berpendapat Hari Lahir Pancasila bukan 1 Juni 1945 seperti yang ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila saat ini. Menurut dia, Pancasila secara utuh sebagai dasar negara ditetapkan pada 18 Agustus 1945 melalui berbagai dinamika dan hasil pemikiran tokoh-tokoh bangsa selain Bung Karno.

    Penetapan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, kata Refly, mendiskreditkan peran tokoh-tokoh bangsa lainnya yang juga mempunyai sumbangsih dalam kelahiran Pancasila. Kendati begitu, ia sepakat istilah Pancasila pertama kali dilontarkan Bung Karno pada 1 Juni 1945.

    Budiman berkukuh rumusan Pancasila yang tertuang dalam pembukaan Undang-undang Dasar 18 Agustus 1945 bersumber dari pidato Bung Karno pada 1 Juni. Ia mencontohkan alinea keempat pembukaan Undang-undang Dasar 1945 berbicara perihal keikutsertaan bangsa Indonesia melaksanakan ketertiban dunia merupakan penjabaran dari sila humanisme atau internasionalisme yang dikemukakan Bung Karno.

    Baca: Jokowi: Pancasila Rumah Bagi Keragaman Bangsa Indonesia

    Menurut Budiman, Bung Karno secara terang menawarkan Pancasila sebagai ideologi dasar negara pada pidatonya 1 Juni 1945. Bung Karno menawarkan lima sila yang terdiri dari Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Perikemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

    "Betul hasil perdebatan banyak pihak, tetapi yang paling pokok, yang jadi babonnya terutama adalah pidato Bung Karno," kata Budiman.

    Budiman menganalogikan Pancasila ibarat bayi yang lahir 1 Juni 1945, tetapi akta kelahiran dan kartu keluarga yang mencantumkan bayi itu sebagai anggota keluarga baru keluar tanggal 18 Agustus. "Ulang tahunnya kapan? Ya 1 Juni itu. Masa pas tanggal aktanya keluar," ujarnya.

    Pendiri Partai Rakyat Demokratik (PRD) ini mengatakan, menafikan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila ibarat menghilangkan spirit ideologi yang dikemukakan Bung Karno itu. Mengutip Bung Karno, Budiman mengatakan Pancasila yang dikemukakan 1 Juni disebut ibarat bintang penuntun, sedangkan Pancasila sebagai dasar negara dipandang seperti meja yang statis.

    "Bung Karno mengatakan ideologi Pancasila itu adalah bintang penuntun yang dinamis, progresif, maju sesuai dengan zaman. Tapi Pancasila juga bisa menjadi meja yang statis tempat kita meletakkan segala sesuatu. Meletakkan Pancasila 18 Agustus berarti Pancasila seolah meja yang statis saja," kata Budiman.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Beberkan RAPBN 2020, Tak Termasuk Pemindahan Ibu Kota

    Presiden Jokowi telah menyampaikan RAPBN 2020 di Sidang Tahunan MPR yang digelar pada 16 Agustus 2019. Berikut adalah garis besarnya.