Alasan Rektor UGM Coret Jubir Eks HTI dari Daftar Penceramah

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panut Mulyono terpilih sebagai Rektor UGM, Senin, 17 April 2017. (facebook.com)

    Panut Mulyono terpilih sebagai Rektor UGM, Senin, 17 April 2017. (facebook.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Rektor Universitas Gadjah Mada atau UGM Panut Mulyono mencoret nama Ismail Yusanto, juru bicara eks Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dari daftar penceramah di acara Ramadan Masjid UGM.

    Meski Ismail Yusanto diketahui sebagai alumnus UGM dan pernah menjadi aktivis masjid kampus itu, namun munculnya polemik di tengah masyarakat jadi pertimbangan pihak rektorat.

    Baca juga: ITS Bantah Pecat Dosen Simpatisan Hizbut Tahrir Indonesia

    “Kami bersama panitia RDK (Ramadhan di Kampus) mengambil langkah, mengganti penceramah pada acara Ramadhan di kampus yang berpotensi menimbulkan polemik di masyarakat," kata Panut Mulyono, Rektor UGM di Gedung Pusat, Jumat, 18 Mei 2018.

    Langkah ini diambil setelah beredar selebaran jadwal penceramah di acara Masjid Kampus UGM. Dalam jadwal itu terdapat nama Ismail Yusanto yang dikenal sebagai aktivis HTI. HTI sebelumnya telah dibubarkan oleh pemerintah karena dianggap bertentangan dengan ideologi Pancasila.

    Panut mengatakan UGM merupakan kampus yang memiliki jati diri universitas nasional. Universitas Pancasila dan universitas perjuangan, juga universitas kerakyatan dan kebudayaan.

    Maka, kata Panut, semua kegiatan akademik maupun non akademik yang didiadakan di lingkungan kampus UGM harus mengedepankan nilai-nilai pluralisme selain itu juga mengedepankan nilai kebangsaan sesuai jati diri bangsa. Kegiatan itu termasuk kegiatan keagamaan.

    Baca juga: Hakim PTUN Tolak Seluruh Gugatan HTI

    Adapun Kiki Dwi Setya Budi, Ketua Jamaah Shalahuddin yang menyelenggarakan acara itu menyatakan, jadwal penceramah yang beredar itu belum final. Terkait adanya nama Ismail Yusanto, pihaknya mempertimbangkan dia sebagai ilmuwan, bukan sebagai juru bicara HTI.

    “Dia itu insinyur, dia ilmuwan. Kami punya rambu-rambu untuk para pengisi acara,” kata dia.

    Soal poster dan jadwal yang sudah beredar di media sosial itu bukan dari pihaknya. Justru, kata dia, itu berasal dari pihak luar. Ia masih menelisik siapa yang membuat dan mengunggah jadwal dan poster.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.