Erna Pelaku Bom di Polrestabes Surabaya, Tetangga Histeris

Reporter:
Editor:

Endri Kurniawati

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rekaman CCTV menunjukkan bom meledak dari dua sepeda motor yang memasuki Mapolrestabes Surabaya.

    Rekaman CCTV menunjukkan bom meledak dari dua sepeda motor yang memasuki Mapolrestabes Surabaya.

    TEMPO.CO, Jakarta - Kabar keterlibatan Tri Ernawati, 42 tahun, dalam bom di Polrestabes Surabaya, Senin, 14 Mei 2018, mengguncang lingkungan tempat dia lahir dan dibesarkan di Krukah Selatan, Surabaya. Para tetangga kaget dan syok. Kukuh, ketua RT di lingkungan orang tua Erna itu mengatakan, ibu-ibu bahkan menangis histeris. Sebab, semua orang mengenal betul sosok Erna yang tidak berbeda dengan orang kebanyakan.

    Keterlibatan Erna dalam peledakan bom bunuh diri itu disampaikan polisi kepada Kukuh sekitar pukul 13.00. Kukuh tak langsung memberitahu orang tua Erna, Supiah dan Kusen. Ia memilih memberitahu dua kakak laki-laki Tri Ernawati, yang tinggal selisih beberapa gang dari rumahnya. “Baru pukul 15.00-an setelah menyebar di media dan grup-grup whatsApp, tetangga jadi tahu,” ujar Kukuh. 

    Baca: Sebelum Bom di Mapolrestabes Surabaya, Erna Antar Gula ke Ibunya ...

    Para tetangga mengenal baik keluarga Supiah dan Kusen. Begitupun Erna yang hingga pagi sebelum bom bunuh diri yang diduga diledakannya sekitar pukul 8.50 itu, masih datang ke rumah ibunya untuk mengantar gula. Gula itu diambil Erna dari temannya untuk persediaan toko kelontong milik ibunya.

    Sampai menikah dengan Tri Murtiono, Erna tinggal di rumah orang tuanya dan pindah ke rumah kontrakan di bilangan Ngagel Tirto pada 2008. “Rumahnya di Tambak Medokan Ayu itu, baru 2 bulanan aja kok karena masa kontrak sudah habis,” ujar Kukuh.

    Kukuh yakin, Tri Ernawati dan suaminya adalah orang baik. Meski bukan sosok yang mencolok di kegiatan sosial, sejak muda perempuan tamatan SMA itu ramah.

    Baca: Pelaku Bom Surabaya Pernah Bertemu Napi Teroris di Tulungagung ...

    Orang-orang di kampong itu mengenal Tri Murtiono sebagai pengrajin alumunium sejak masih menumpang di rumah mertuanya. Murtiono, kata dia, biasa membuat rak piring dan lemari kaca. Usaha itu masih digelutinya walaupun sudah berpindah rumah di rumah kontrakan Ngagel Tirto sejak 10 tahun lalu.

    “Mendengar kabar kemarin, kami merasa kehilangan. Kami justru kasihan,” kata Kukuh tentang tetangganya, peledak bom di Polrestabes Surabaya itu.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.