Identitas Terduga Teroris yang Ditembak Mati di Surabaya

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah anggota Polisi membawa jenazah terduga teroris di rumah kawasan Perum Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, 14 Mei 2018. Belum ada informasi dari aparat kepolisian yang memberikan keterangan tentang penangkapan tersebut. ANTARA FOTO/Umarul Faruq

    Sejumlah anggota Polisi membawa jenazah terduga teroris di rumah kawasan Perum Puri Maharani, Sukodono, Sidoarjo, Jawa Timur, 14 Mei 2018. Belum ada informasi dari aparat kepolisian yang memberikan keterangan tentang penangkapan tersebut. ANTARA FOTO/Umarul Faruq

    TEMPO.CO, Surabaya - Terduga teroris yang ditembak mati anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror di Jalan Sikatan IV, Kecamatan Tandes, Surabaya, Selasa petang, 15 Mei 2018, bernama Dedy Sulistianto, 45 tahun.

    "Panggilannya Anto atau Yanto," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Frans Barung Mangera saat dikonfirmasi Tempo, Selasa malam.

    Baca juga: Densus 88 Tangkap 13 Terduga Teroris di Surabaya dan Sidoarjo

    Dia mengatakan Anto ditangkap pukul 17.50. Karena melakukan perlawanan dengan senjata tajam, anggota Densus 88 terpaksa menembak mati warga Manukan Kulon Blok 19-H/19 RT 11 RW 03 itu.

    Selain menembak mati Anto, Densus mengamankan istri Anto, Suyanti (34) serta tiga anak Anto yang masih kecil, yakni DNS (14), AISP (10), dan HA (6).

    Namun warga Jalan Sikatan mengenal terduga teroris yang ditembak mati tersebut bernama Teguh. "Usianya sekitar 40-an tahun. Istrinya bernama Yanti. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil-kecil," ujar Ramin, Ketua RT 06 RW 02 Kelurahan Manukan Wetan, Tandes, Surabaya, saat dikonfirmasi Antara di lokasi kejadian, Selasa malam.

    Baca juga: Terduga Teroris yang Tewas di Sidoarjo Aktif Ikut Kegiatan Warga

    Menurut Ramin, keluarga ini memang dikenal tertutup dengan warga sekitar. Teguh beserta keluarganya, kata dia, tinggal di lingkungan Jalan Sikatan IV sekitar lima tahun terakhir.

    "Kalau Pak Teguh asalnya dari Kelurahan Manukan Kulon, Surabaya. Istrinya dari Jombang. Sudah dua kali pindah kos selama lima tahun tinggal di sini, tapi semuanya berlokasi di Jalan Sikatan IV," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.