Istri Terduga Teroris ASN di Kemenag, Lukman Hakim: Ada Sanksi

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan keterangan kepada media terkait sidang isbat penentuan 1 Syawal 1436 H di Kementerian Agama, Jakarta, 16 juli 2015. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan keterangan kepada media terkait sidang isbat penentuan 1 Syawal 1436 H di Kementerian Agama, Jakarta, 16 juli 2015. Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin membenarkan salah satu pegawai di Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Timur merupakan istri dari terduga teroris asal Sidoarjo, Budi Satrio, yang tewas ditembak Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri saat penggerebekan Senin kemarin, 14 Mei 2018.

    "Jadi memang betul yang bersangkutan adalah istri dari yang diduga teroris itu dan kami sedang melakukan komunikasi terus dengan aparat penegak hukum," kata Lukman di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 15 Mei 2018.

    Baca: Lukman Hakim Akui Istri Terduga Teroris Sidoarjo PNS Kemenag

    Lukman mengaku sudah mendapat konfirmasi dari Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur dan aparat inspektorat jenderal yang terjun ke sana. Jajarannya mengonfirmasi bahwa salah satu pegawai yang bernama Wiqoya merupakan istri Budi Satrio.

    Menurut Lukman hal itu akan menjadi pelajaran bagi kementeriannya untuk meningkatkan kewaspadaan lebih ketat. Juga memastikan seluruh aparatur sipil negara (ASN) dan keluarganya harus sesuai sumpah dan janji saat dilantik dan menaati Undang-Undang ASN. Lukman menegaskan akan memberikan sanksi kepada ASN Kementerian Agama yang melanggar hukum, sumpah, regulasi, terutama aturan ASN.

    Simak: Zulkifli Hasan: Teroris Harus Dilawan dengan Saling Menguatkan

    Lukman menuturkan ASN di bawah Kementerian Agama sebanyak 220 ribu pegawai merupakan yang terbanyak di antara kementerian dan lembaga lain. Sehingga, dengan banyaknya ASN, pihaknya memiliki kemampuan terbatas untuk mengetahui aktivitas setiap pegawainya. "Kami tidak tahu di luar kantor ASN kami melakukan apa saja," kata dia.

    Budi Satrio, 49 tahun, merupakan terduga teroris yang tewas saat penangkapan. Aparat Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri sebelumnya menggerebek rumah terduga teroris di dua lokasi berbeda di Kabupaten Sidoarjo dalam waktu hampir bersamaan, Senin, 14 Mei 2018.

    Lihat: Penggerebekan Terduga Teroris di Sidoarjo Diwarnai Suara Tembakan

    Lokasi pertama yang digerebek ialah di Desa Jedong, Urangagung, Kecamatan Sukodono. Adapun lokasi kedua yang digerebek ialah di Perumahan Puri Maharani, Blok A4-11, Desa Masangan Wetan, Kecamatan Sukodono.

    Di Urungagung, Densus 88 membekuk empat terduga teroris dalam keadaan hidup. Adapun di Perumahan Puri Maharani, terduga teroris atas nama Budi Satrio tewas ditembak. Dari penggrebekan itu, polisi menemukan beberapa material diduga bahan bom.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.