Terduga Teroris yang Tewas di Sidoarjo Aktif Ikut Kegiatan Warga

Reporter:
Editor:

Kukuh S. Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana penggerebekan rumah terduga teroris Budi Satrio oleh Densus 88 di Perumahan Puri Maharani, Sidoarjo, 14 Mei 2010. TEMPO/Kukuh SW

    Suasana penggerebekan rumah terduga teroris Budi Satrio oleh Densus 88 di Perumahan Puri Maharani, Sidoarjo, 14 Mei 2010. TEMPO/Kukuh SW

    TEMPO.CO, Sidoarjo - Warga Perumahan Puri Maharani, Desa Masangan Wetan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo, tidak menyangka Budi Satrio, 49 tahun, merupakan anggota jaringan teroris. Mereka terkejut saat aparat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri tiba-tiba mengepung rumah Budi, di Blok A4-11, pada Senin pagi, 14 Mei 2018.

    Menurut keterangan salah seorang warga, Subagyo, aparat sempat mengultimatum agar Budi keluar. Tak lama kemudian terdengar bunyi letusan senjata. “Yang saya dengar dua kali letusan,” katanya yang mengaku menyaksikan penggerebekan itu.

    Baca: Ke Rumah Terduga Teroris Bom di Surabaya, Risma: Saya Ndak Ngira

    Ia berujar saat penggerebekan berlangsung, Budi sedang di rumah bersama istrinya. Istri Budi, Siti, bekerja di Kantor Wilayah Kementerian Agama Kota Surabaya. “Istrinya belum berangkat kerja, kan masih pagi. Biasanya kalau berangkat diantarkan Pak Budi,” ujarnya.

    Selang satu jam kemudian, ambulans datang dan membawa jenazah dari rumah Budi. Seorang polisi memberi tahu Subagyo bahwa Budi sudah tewas. Adapun istrinya turut dibawa di mobil polisi. “Saya hanya bisa istigfar,” ucapnya.

    Simak: Densus 88 Baku Tembak dengan Kelompok Teroris di Sidoarjo

    Di mata warga perumahan, Budi terkenal supel. Sebagai warga yang telah 10 tahun menempati rumahnya, Budi aktif ikut kegiatan kampung. Sehari-hari Budi usaha sendiri membuat sabun cair dan sampo untuk kebutuhan jasa pencucian. Sabun cair dan sampo itu, menurut Subagyo, disetorkan Budi ke jasa pencucian tiap pekan sekali. “Tapi disetor ke mana, saya tidak tahu,” tuturnya.

    Subagyo terakhir bertemu Budi pada Sabtu malam, sebelum teror bom terjadi di Surabaya pada Ahad pagi. Saat itu, mereka terlibat obrolan ringan sebentar sebelum masuk ke rumah masing-masing. “Saya dan semua warga tidak mengira Pak Budi bagian dari jaringan teroris yang berbahaya,” katanya.

    Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Sidoarjo Komisaris Besar Himawan Bayu Aji yang meninjau lokasi setelah penggerebekan mengatakan ditemukan sejumlah benda di rumah Budi. Namun Himawan belum memastikan apakah benda-benda itu merupakan bahan bom. "Masih didalami," ujarnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.