Pesan Terakhir Setya Novanto Sebelum Tabrak Tiang Listrik

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Istri mantan ketua DPR Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan kasus merintangi penyidikan korupsi e-KTP dengan terdakwa Bimanesh Sutarjo, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 16 April 2018. Sidang tersebut beragendakan mendengar keterangan sejumlah saksi, salah satunya Deisti Astriani Tagor. TEMPO/Muhammad Denggan Fahrurrozie

    Istri mantan ketua DPR Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor memberikan kesaksian dalam sidang lanjutan kasus merintangi penyidikan korupsi e-KTP dengan terdakwa Bimanesh Sutarjo, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 16 April 2018. Sidang tersebut beragendakan mendengar keterangan sejumlah saksi, salah satunya Deisti Astriani Tagor. TEMPO/Muhammad Denggan Fahrurrozie

    TEMPO.CO, Jakarta - Istri Setya Novanto, Deisti Astriani Tagor, menyatakan suaminya sempat mengirimkan pesan terakhir sebelum kecelakaan yang menimpa mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu. Deisti menyebutkan Setya Novanto mengontaknya dan berpamitan untuk menyerahkan diri ke Komisi Pemberantasan Korupsi.

    "Pada 16 November 2017 itu, saya hanya dapat telepon sekitar pukul 14.30 dari Pak Setya Novanto, suami saya, bahwa ia akan menyerahkan diri ke KPK. Beliau menyampaikan, ‘Saya akan ke KPK dengan DPD (Dewan Pimpinan Daerah) tingkat I’," kata Deisti dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Senin, 16 April 2018.

    Baca: Setya Novanto dan Fredrich Yunadi Wajib Jadi Saksi untuk Bimanesh

    Deisti bersaksi untuk dokter Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo, yang didakwa bekerja sama dengan advokat Fredrich Yunadi untuk menghindarkan Setya Novanto diperiksa dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi KTP elektronik.

    "Kamu dan anak-anak tolong kuat, tidak apa-apa, tolong tenangin anak-anak, kuatkan anak-anak, tolong kamu hubungi anak-anak," ucap Deisti menirukan pesan Setya Novanto.

    Sehari sebelumnya, yaitu 15 November 2017 malam, penyidik KPK sudah datang ke rumah Setya di Jalan Wijaya III sekitar pukul 21.30 WIB untuk membawanya dan melakukan penggeledahan di rumah tersebut.

    "Orang rumah saya mengatakan, 'Bu, Ibu, banyak orang KPK di luar.’ Saya lihat dari jendela di bawah ada siapa, ternyata ada pengacara Pak Fredrich. Jadi saya di atas saja. Tapi saat itu Pak Setya Novanto sedang keluar," ujar Deisti.

    Deisti mengaku suaminya pada 15 November 2017 sore keluar dengan diiringi sirene pengawal polisi dan tidak mengatakan akan pergi ke mana.

    "Tanggal 16 November itu, saya disuruh tanda tangan surat kuasa keluarga untuk Pak Fredrich dan diminta mencari tahu keberadaan Pak Setnov. Tapi, saat saya telepon, teleponnya mati. Saya coba berkali-kali di hadapan pengacara dan penyidik sampai pukul 02.30 WIB tidak nyambung," tutur Deisti.

    Baru pada 16 November 2017 sekitar pukul 14.30 WIB, Setya Novanto menghubunginya dan mengaku akan menyerahkan diri ke KPK.

    Setelah mendapatkan pesan Setya, ia pun hanya menanti kemunculan suaminya itu di televisi.

    "Tapi ternyata, pada pukul 19.30, saya dapat telepon dari Pak Fredrich. Katanya Pak Setya Novanto mengalami kecelakaan," kata Deisti.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.