Baca Pleidoi, Setya Novanto Cerita Jualan Beras dan Jadi Sopir

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terdakwa Kasus Korupsi Pengadaan KTP elektronik Setya Novanto mendengarkan pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 29 Maret 2018. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    Terdakwa Kasus Korupsi Pengadaan KTP elektronik Setya Novanto mendengarkan pembacaan tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK saat menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta, 29 Maret 2018. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

    TEMPO.CO, Jakarta - Terdakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto menceritakan pengalaman hidupnya di dalam pleidoinya. "Dengan amat terpaksa, izinkan saya menceritakan sedikit perjuangan hidup saya untuk negeri ini," kata dia dalam sidang pembacaan pleidoi di pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat, 13 April 2018.

    Setya Novanto mengatakan tidak bermaksud pamrih karena menceritakan soal kebaikan atau keburukannya dalam pleidoi itu. Dia mengatakan hanya ingin masyarakat tahu bahwa dirinya tidak seburuk yang dibayangkan orang.

    "Saya hanya ingin ada sebagian masyarakat sedikit membuka mata untuk melihat sisi lain diri saya sehingga tidak terus-menerus mencaci saya dengan begitu kejamnya," kata dia.

    Setya Novanto menceritakan dirinya tidak lahir dari keluarga konglomerat, tapi dari keturunan keluarga tidak mampu. Namun dia mengaku punya cita-cita yang tinggi untuk membangun negeri ini.

    Baca juga: Hayono Isman: Setya Novanto Dulunya Tukang Cuci Mobil  

    Dia mengatakan tekad itu didapat dari ucapan mantan presiden Amerika Serikat John F. Kennedy. "Jangan tanya apa yang bisa negaramu berikan, tapi tanyakan apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu," kata dia mengutip Kennedy.

    Untuk mewujudkan cita-cita itu, Setya mengaku rela bekerja apapun. Pahit dan getir kehidupan pun, kata dia, sudah dia lalui.

    Setya Novanto menceritakan setelah lulus SMA dia sudah bekerja untuk bisa menyambung hidup dan berkuliah. Mulai dari berjualan beras, jadi model hingga sales mobil sudah dilakukannya. "Hingga menjadi kepala penjualan mobil untuk seluruh Indonesia timur di sebuah perusahaan," kata dia.

    Selesai kuliah di Surabaya, Setya Novanto lalu merantau ke Ibu Kota untuk melanjutkan kuliah. Di Jakarta, Setya bisa kuliah atas bantuan dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Hayono Isman. "Karena kemurahan hati beliau lah anak melarat ini bisa jadi orang," kata dia.

    Keluarga Hayono Isman, kata dia, telah menjadi saksi bagaimana dahulu dia  membangun diri. Di keluarga itu, Setya Novanto bekerja menjadi sopir dan mengantarkan anak-anak ke sekolah. "Semua saya lakukan agar saya bisa melanjutkan kuliah saya," kata dia.

    Baca juga: Setya Novanto, Penjual Madu yang Menikahi Anak Jenderal

    Setya Novanto lalu mengatakan semua upayanya itu berbuah manis. Sebab, dia akhirnya bisa membangun karir sebagai politikus. Pekerjaan yang menurutnya sesuai dengan cita-citanya untuk mengabdi pada negara.

    "Sekali lagi saya sampaikan saya mengatakan ini karena terpaksa. Saya hanya ingin masyarakat melihat dalam kegelapan pemberitaan tentang diri saya. Hingga saya bisa mencari celah semoga tidak mengurangi rasa ikhlas soal apa yang sudah saya lakukan," kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.