Maruf Amin Tantang Prabowo Tunjuk Hidung Elite yang Suka Menipu

Reporter:
Editor:

Juli Hantoro

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Majelis Ulama Indonesi KH Maruf Amin di sela Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Majelis Rasulullah SAW di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Jumat, 1 Desember 2017. Tempo/Hendartyo Hanggi

    Ketua Umum Majelis Ulama Indonesi KH Maruf Amin di sela Maulid Nabi Muhammad SAW oleh Majelis Rasulullah SAW di Lapangan Monumen Nasional, Jakarta, Jumat, 1 Desember 2017. Tempo/Hendartyo Hanggi

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Majelis Ulama Indonesia Maruf Amin meminta Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Prabowo Subianto langsung menunjuk nama elite yang disebutnya suka menipu. "Elitenya mana? Orangnya mana? Tunjuk saja. Yang bohongin publik mana? Jangan lempar begitu, yang kena siapa nanti. Jangan melempar tidak jelas. Tunjuk nama, tunjuk hidung," kata Maruf di kompleks Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin, 2 April 2018.

    Maruf menyarankan kepada Prabowo agar tidak membuat pernyataan yang menimbulkan kegaduhan. Ketimbang menuding ada elite yang suka menipu, Maruf meminta Prabowo memberikan konsep dan pendapatnya dalam memajukan bangsa.

    Baca juga: Prabowo Minta Sudrajat-Ahmad Syaiku Jalankan Revolusi Putih

    Menurut dia, politik itu sebaiknya bukan diucapkan, tapi dilaksanakan dan dikerjakan. Karena itulah, Maruf mengaku lebih menyukai sosok Presiden Joko Widodo. "Makanya, saya suka beliau. Pak Jokowi itu yang penting kerja. Tidak usah mengucapkan. Politik itu kan sebaiknya tidak diucapkan, tapi dilaksanakan, dikerjakan. Jadi kerja, kerja, kerja gitu. Jadi, jangan bikin statement yang bikin gaduh saja," ucapnya.

    Dalam safari politiknya di Jawa Barat, Prabowo menyampaikan ketidaksukaannya kepada elite politik sekarang, terutama elite Jakarta, karena banyak yang menipu. Menurut dia, semua terjadi karena mereka menerapkan paham neoliberalisme di Indonesia.

    Prabowo sendiri sempat mengaku tertarik pada paham ini pada masa Orde Baru, ketika dia tergabung dalam Partai Golongan Karya. Di masa itu, pemerintah menggunakan pendekatan trickle down effect atau teori menetes ke bawah yang diperkenalkan Albert Otto Hirschman, pencetus paham neoliberalisme.

    "Ternyata paham itu bohong. Kesejahteraan enggak netes-netes ke bawah, malah dibawa ke luar negeri oleh elite," ujar Prabowo.

    Baca juga: Puan Maharani Akan Temui Prabowo Subianto

    Prabowo menegaskan, sebagai mantan komandan, ia bisa melihat mana elite yang tulus dan mana yang penipu. Namun yang sering ditemuinya kebanyakan penipu. "Saya lihat muka elite Jakarta penuh tipu. Saya mantan komandan sejak muda. Saya terbiasa baca tampang anak buah hingga saya bisa tahu tampang penipu," tutur mantan Komandan Jenderal Kopassus itu. "Siapa elite itu? Elite itu pimpinan. Saya juga elite. Bedanya, saya elite sadar, sudah tobat, dan setia."

    Para elite penipu itu, kata Prabowo, secara sistemik telah melanggar Pasal 33 UUD 1945. "Padahal ini pasal kunci. Kalau saja kita taat, Indonesia sudah kaya raya," ucapnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.