Prabowo Subianto: Saya Lihat, Wajah Elit Jakarta Penuh Tipu

Reporter:
Editor:

Widiarsi Agustina

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Prabowo Subianto. Dok.TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    Prabowo Subianto. Dok.TEMPO/Dhemas Reviyanto Atmodjo

    TEMPO.CO, KARAWANG -- Prabowo Subianto berpidato di Gedung Serbaguna Isnata Kana Cikampek, Sabtu 31 Maret 2018. Ketua Umum Partai Gerindra itu bicara soal perilaku elit politik di Ibu Kota negara, Jakarta.

    Prabowo mengaku ketidak sukaannya pada elit politik sekarang, terutama elit Jakarta karena banyak yang menipu. Semua pernah terjadi karena mereka menerapkan paham neoliberalisme di Indonesia.
    Prabowo sendiri sempat mengaku tertarik pada paham ini, saat masa orde baru, ketika dia tergabung di Partai Golkar.

    Di masa itu, pemerintah menggunakan pendekatan trickle down effect atau teori menetes ke bawah yang diperkenalkan Albert Otto Hirschman, pencetus faham Neoliberalisme.

    BACA: Deklarasi Prabowo Subianto Sebagai Capres 11 April

    "Ternyata faham itu bohong. Kesejahteraan nggak netes - netes ke bawah. Malah dibawa ke luar negeri oleh elit," ujar Prabowo.

    Prabowo menegaskan, sebagai mantan komandan, ia bisa melihat mana elit yang tulus dan mana yang penipu. Namun yang sering ditemuinya, kebanyakan penipu. "Saya lihat muka elit Jakarta penuh tipu. Saya mantan komandan sejak muda. Saya terbisa baca tampang anak buah hingga saya bisa tahu tampang penipu," ujar mantan Danjen Kopassus itu.

    "Siapa elit itu ? elit itu pimpinan. Saya juga elit. Bedanya saya elit sadar, sudah tobat dan setia," Prabowo menambahkan.

    Para elit penipu itu, kata Prabowo secara sistemik telah melanggar UUD 1945 pasal 33. "Padahal ini pasal kunci. Kalau saja kita taat, Indonesia sudah kaya raya," tuturnya.

    BACA:Mengapa Prabowo Harus Maju Capres? Kata Desmond: Sejujurnya..

    Berdasarkan pasal itu, kata Prabowo Indonesia seharusnya tidak membolehkan azas konglomerasi. "Satu keluarga menguasai jutaan hektare. Indonesia itu asas kekeluargaan bukan kapitelisme," kata dia.

    Sehingga, kata Prabowo, Kapitalisme harus terkendali. Bahkan menurut dia banyak tokoh barat sudah menganggap kapitalisme gaya lama sudah tidak bisa dipakai lagi. Ia pun mengutip pernyataan sejumlah tokoh barat yang mengkritik kapitalisme dan neoliberalisme. Termasuk pernyataan mantan capres Amerika Hillary Clinton, Mantan pimpinan IMF Christine Lagarde termasuk Paus Franciscus I.

    "Kalau kulit putih ngomong didenger, kalau Prabowo yang ngomong dilecehkan elit Jakarta," kata dia.

    HISYAM LUTHFIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tommy Soeharto dan Prabowo, Dari Cendana Sampai ke Pemerintahan

    Tommy Soeharto menerima saat Prabowo Subianto masuk dalam pemerintahan. Sebelumnya, mereka berkoalisi menghadapi Jokowi - Ma'ruf dalam Pilpres 2019.